Kamis, 12 Februari 2015

Opini Bareng BBI: Karakter Tokoh Utama

Apakah kamu lebih menyukai karakter utama yang serba sempurna, mirip dengan kepribadianmu, atau yang hidupnya penuh dengan masalah dan ketidaksempurnaan? Apakah kamu menyukai tokoh utama yang cerewet atau pendiam?
Setelah saya pikir-pikir, saya bisa menyukai hampir semua karakter tokoh utama dari setiap buku yang saya baca. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, saya lebih menyukai lagi karakter yang bisa membuat saya cemburu. Jadi gak terlalu mempermasalahkan karakternya sih, lebih kepada apa yang bisa mereka lakukan tapi saya tidak bisa. Maksudnya gimana sih?

Misalnya Raib dalam buku Bumi karangan Tere Liye, saya selalu merasa saya dan tokoh ini mirip, dalam hal kepribadian tentunya. Tapi, perbedaannya jelas, saya bukan seseorang yang punya tanggung jawab menyelamatkan empat dunia. Saya cemburu pada Ra, saat ia (di usia yang sama dengan saya) bisa memiliki sebuah tanggung jawab besar, saya masih begini-begini saja. Tentu saja, saya sadar kalau kisah Ra itu fiksi, fantasi pula, dan tidak bisa dibandingkan dengan kehidupan nyata. Tapi bukan itu poinnya, yang saya lakukan adalah memotivasi diri, untuk menjadi seseorang yang berarti bagi makhluk rendah lainnya apa yang harus saya lakukan?


Hal yang sama saya rasakan pula ketika membaca Bidadari-Bidadari Surga dari pengarang yang sama. Saya cemburu pada Kak Laisa, ia dan keterbatasan fisiknya bisa menjadi kebanggaan adik-adiknya meski dengan karakter yang tidak terlalu menyenangkan—tentu itu demi kebaikan adik-adiknya. Bagaimana caranya supaya saya juga bisa menjadi kebanggaan keluarga saya?
Tapi, tentu saja tidak semua tokoh utama dengan perjuangan mereka bisa membuat saya cemburu. Misalnya saja, tokoh Irvine dalam Dear Prudence karya Dannie Faizal. Irvine mengalami banyak masalah dalam hidupnya, dan dia juga bisa menghadapi semua dengan kesabarannya. Keseluruhan isi bukunya juga memberi pesan yang baik mengenai jangan menyerah pada mimpi kita, dan tetap percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan segalanya. Tapi, saya tidak cemburu pada Irvine, entahlah, mungkin karna ia mengalami cukup banyak keberuntungan.

Begitu juga dengan Belladonna dalam Spellbinder karangan Helen Stringer, meski ia juga pendiam seperti Ra—juga seperti saya—, dan ia juga menyelamatkan tujuh dunia. Tapi, saya tidak cemburu pada apa yang telah ia capai.

Sepertinya hal ini kembali lagi pada selera masing-masing. Mungkin, saya yang terlalu fanatik dengan pengarang tertentu, atau memang pengarang tersebut mampu membuat karakter yang bisa memberi banyak arti.


Btw, sepertinya saya melenceng dari tema XD

10 komentar:

  1. kalau aku gak suka karakter utama yg mirip sama kepribadianku, let just said, I admit it, I'm not likeable person.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, kita mengenal diri kita lebih dari orang lain, dan mungkin lebih tau keburukkan diri sendiri, kemudian ketika menemukan karakter yang mirip berasumsi kalau ada keburukan yang sama juga dengan kita. Hmmm,

      Hapus
  2. wah kalo saya bukannya bakalan suka dengan tokoh yang bikin sirik. ujung2nya jadi pengen tokoh yg membuat saya sirik itu ketiban hal apes biar saya nggak sirik lagi.. x)

    BalasHapus
  3. Saya juga suka tokoh yang bikin sirik. Tapi bukan dalam hal penampilan, kekayaan, status gitu. Misalnya karena dia lebih tegar dan kuat dalam menghadapi cobaan yang mungkin nggak bisa saya hadapi hehe...

    BalasHapus
  4. Sirik yang bisa memotivasi kita untuk menjadi lebih baik. I like it :)

    BalasHapus
  5. unik ya... aku malah kalo envy sama tokoh tertentu, bisa jadi sebel sama bukunya loh XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya tergantung kita cemburunya mengenai apa. Seandainya dideskripsikan kalau si tokoh utama mendapatkan sesuatu yang besar padahal usahanya gak gede-gede amat, ya saya juga mau lempar bukunya. wkwk

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...