Sabtu, 16 Juli 2016

Wool - Hugh Howey

goodreads
Judul: Wool (Silo Trilogy, #1)
Pengarang: Hugh Howey
Penerjemah: Dina Begum
Penerbit: Noura Books
Terbit: Cetakan ke-1, September 2014
Tebal: 710 hal
Genre: Science Fiction, Dystopia

“Mengetahui kebenaran tidak pernah sia-sia”—p. 23


Silo terdiri dari seratus empat puluh empat lantai yang menembus ke dalam tanah. Di lantai teratas, ada sebuah layar besar yang menampilkan kehidupan di luar Silo. Yang sebenarnya bukan pemandangan yang menarik. Awan-awan hitam yang berjalan hilir mudik di langit kelabu, serta reruntuhan gedung pencakar langit di balik perbukitan coklat. Tentu saja, untuk bisa melihat pemandangan itu ada beberapa kamera di luar Silo, dan meski beratus-ratus tahun Silo dibangun, kamera-kamera itu tak pernah terlalu berdebu untuk bisa melihat ke luar.

Hal itu karena di setiap waktu, ada saja orang-orang yang cukup kurang ajar untu mengucapkan tabu, dan menginginkan pergi ke luar. Maka orang-orang ini mendapatkan apa yang mereka inginkan, dibekali dengan alat pembersih berupa kain wol dan penyemprot, mereka dikirim ke Pembersihan untuk membersihkan kamera-kamera di atas Silo.

Adalah Allison, istri dari Sheriff Holston yang memiliki rasa ingin tahu yang terlalu tinggi. Ditambah dengan kemampuannya yang mumpuni dalam hal komputer menyebabkannya menemuan banyak rahasia Silo. Pada akhirnya hal ini harus membuatnya berakhir terkapar tewas di perbukitan cokelat Silo setelah dikirim ke pembersihan oleh suaminya sendiri.

“Anak-anak bermain sementara Holston meniti tangga menuju kematian”—p. 2

Rahasia-rahasia yang ditemuan Allison adalah misteri, bahkan bagi Holston sendiri, tapi begitu juga dengan alasan para pembersih tetap membersihkan meski sebelumnya selalu berkata bahwa mereka tidak akan membersihkan. Sampai ahirnya, Holston mengetahui apa alasan mereka, juga rahasia Allison, sayangnya ‘kebenaran’ itu ikut hilang bersama nyawanya.

Walikota Jahns dan Deputi Marnes kemudian melakukan perjalanan puluhan lantai untuk menemui Juliette, seorang wanita Mekanik yang punya reputasi pernah membantu Holston untuk menyelesaian sebuah kasus. Perjalanan itu demi membujuk sang tokoh utama agar mau menjadi Sherrif baru pengganti Holston.

“Kurasa yang ingin kusampaikan adalah kalau kalian ingin memberikan pekerjaan itu kepada Jules, berhati-hatilah.”

“Kenapa harus berhati-hati?” tanya Marnes.

Marck memandang pipa-pipa dan kabel-kabel yang melintang pukang di atas kepala.

“Karena dia akan melakukannya. Bahan jika kalian tidak benar-benar menyangka dia akan sanggup melakukannya”—p 132

Juliette, punya karater yang menjanjikan, pintar, keras kepala, kuat, dan penuh rasa ingin tahu. Dan yang terahir itu, ditambah semangat jasad-jasad yang menghantui hidupnya membuatnya bertekad untuk mengungkapan rahasia Silo, rahasia yang membuat Holston pergi ke pembersihan.

“Manusia tak jauh berbeda dengan mesin. Mereka rusak. Mereka berdetak. Mereka bisa membakar atau merusakkan jika kita tak berhati-hati”—p 174

Bagi saya, Wool punya ide cerita yang segar. Meski ide konspirasi penipuan terhadap masyarakat bukan hal baru, tapi baik jalan cerita maupun world buildingnya sama sekali tak bisa di tebak.

Penyampaian tingkat lantainya seolah menggambarkan kondisi sosial masyarakat, nyata-nyata secara vertikal. Orang-orang di lantai atas, sebagian dari mereka pici dan merendahkan orang-orang di bawah merea, tapi ada pula orang-orang baik yang semakin merana melihat banyak kematian. Orang-orang di lantai tengah menganggap diri mereka orang lantai atas, meremehkan orang-orang lantai bawah, memuja kehidupan borjuis lantai atas. Sementara orang-orang lantai bawah sebenarnya yang paling penting dalam kehidupan Silo, merekalah yang membuat listrik, menjernihkan udara dan air, menyediakan pangan dan pakaian. Dan meski diremehan oleh mereka yang diatas, mereka tak pernah melawan, tak pernah merasa perlu menunjukan bahwa mereka penting, mereka tau mereka penting, dan itu cukup

Dan sikap ‘apatis’ terhadap kehidupan di atas mereka ini malah membuat mereka yang paling manusiawi. Merekalah yang sadar bagaimana cara agar bisa hidup di Silo, yakni dengan memiliki satu-sama lain. Sayangnya kebersamaan ini hanya berlangsung diantara mereka saja sehingga terjadilah perpecahan di Silo. Padahal dunia tidak berputar disekeliling mereka saja. *ngomong apa sih* Maksud saya sih, ini bikin saya bertanya-tanya, memang butuh persamaan untuk menciptakan persatuan?

“Membunuh seseorang seharusnya lebih berat daripada mengayunkan pipa ke arah mereka. Seharusnya ada jarak yang cukup lama untuk disusupi oleh nurani seseorang”—p. 399

Saya juga suka dengan karakter-karakternya. Penjabaran emosi-emosi mereka detail, tapi tidak berlebihan. Pun dalam hal drama dan romance, buku ini lebih banyak membahas hal teknis, bukan berarti hal itu membosanan mengingat Juliette harus berkali-kali menghadapi ancaman kematian.

Dan endingnya juga memuaskan. Tidak terlalu menggantung karena masalah yang mengganggu pikiran Allison akhirnya terungkap, tapi masih menyisakan pertanyaan mengenai nasib ‘Silo independen’ ini. Ngomong-ngomong, di akhir buku ini juga ada prolog dari sekuelnya, Shift, saya gak baca sih, cuma baca baris terakhirnya dan seperti bakal ada flashback ratusan tahun. kenapa saya gak baca? Ya, karena sepertinya sekuelnya ini tidak akan diterjemahkan dan saya menolak untuk kebelet kepo. Mungkin kalau ada kesempatan saya bakal baca versi Inggrisnya.

“Tak seorang pun dari kita yang meminta untuk berada di tempat kita berada.” Juliette mengingatkan dengan dingin.

Ini membuat Lukas tercenung sejenak, memikirkan tempat Juliette berada, apa yang dia lalui untuk tiba di sana.

“Yang bisa kita kendalikan,” kata Juliette, “adalah tindakan kita setelah takdir meletakkan kita di sana.”—p. 520

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...