Sabtu, 31 Desember 2016

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken - Jostein Gaarder & Klaus Hagerup

goodreads
Judul: Mrs. Bibbi Bokkens magische Bibliothek (1999)
Judul Terjemahan: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Pengarang: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah: Ridwana Saleh
Penerbit: Mizan
Terbit: Maret 2011
Tebal: 284 hlm
“Tak ada aturan bagi seseorang dalam menulis, demikian juga dalam berpikir.”
Nils masih ingat benar sosok wanita aneh yang ia dan sepupu perempuannya, Boyum, lihat di Pondok Flatbre ketika lburan musim panas lalu. Lagipula tidak sering kan orang mengintip-intip puisi buatan mereka yang mereka tulis di buku tamu? Makanya, ketika bertemu lagi dengan wanita itu di sebuah toko buku di Sogndal, ia langsung mengenalinya. Yang lebih aneh lagi, selain fakta bahwa wanita itu ngiler sambil memerhatikan punggung-punggung buku, wanita itu ‘memaksa’ untuk ikut membayari buku itu.

Berit juga, mengingat wanita itu. Dengan alasan yang sama ia mengikutinya saat turun dari dermaga, untuk menemukan wanita itu tinggal di sebuah rumah berwarna kuning. Tapi bukan itu saja, saat wanita itu masuk, sepucuk surat jatuh dari tas tangannya. Berit, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi tentu mengambil dan membaca surat itu. Isinya sangat ganjil. Surat itu dari seseorang bernama Siri dari Campo dei Fiori yang mencari toko barang antik di Piazza Navona, dan ia menemukkan buku tentang perpustakaan ajaib yang baru akan beredar tahun depan (sebab buku itu saat ini masih ditulis)

Nils dan Berit menuliskan pengalaman mereka melalui surat, tapi bukan surat biasa, karena surat itu berbentuk buku yang dibeli Nils di Sogndal. Buku tersebut lalu dikirim bolak-balik dari Oslo dan Fjærland—tempat tinggal Nils dan Berit—Dan rupanya isi buku-surat itu jadi lebih menarik dari yang mereka harapkan. Sampai liburan musim gugur, kehidupan Nils dan Berit seolah tak lepas dari wanita misterius bernama Bibbi Bokken itu, bahkan soal perpustakaan ajaib bisa membawa mereka kepada dengan pria tuli di Roma, juga seorang pria botak mengerikan yang mereka juluki Smiley.

“Namun, aku tetap menulis karena aku merasa dapat berpikir lebih baik jika aku menulis, dibandingkan jika aku bicara”

Buku ini hanya terdiri dari dua bab. Bab pertama, “Buku-Surat” berisi surat-surat yang dikirimkan oleh Nils dan Berit, bercerita bagaimana kemajuan penyelidikan mereka terhadap buku perpustakaan ajaib, Bibbi Bokken, dan Smiley. Dan bab kedua, “Perpustakaan” adalah ketika Nils dan Berit akhirnya bertemu untuk mengungkap kebenaran. Meski begitu, pada bab kedua pun sudut pandangnya masih berganti-ganti antara Nils dan Berit. Untungnya tidak sulit untuk melihat pergantiannya.

Tapi yah, ini buku yang unik kan? Baik dari bentuk maupun isinya. Sebab meskipun Nils dan Berit masing-masing masih kelas enam dan delapan, keduanya suka membaca, punya imajinasi dan rasa ingin tahu. Mulai dari Winnie the Pooh, sistem Dewey, sampai incunabula. Bahkan berbagai teori buku, teori menulis, juga sejarah dunia percetakkan.

Singkatnya ini adalah buku yang memanjakan para pecinta buku! Apalagi ditulis oleh penulis terkenal Jostein Gaarder, tak heran sebenarnya ketika buku ini membuat pembacanya banyak berpikir, terutama ketika akhir Nils dan Berit menemukan perpustakaan ajaib itu. Saya sama takjubnya dengan mereka.

“Sepanjang masa, pada diri manusia hadir pemikiran, kata-kata, dan kalimat-kalimat baru. Di seluruuh dunia, saat ini jutaan anak tengah membuat bahasa masa depan. ... . Anak-anak itu penuh dengan pengetahunan, tapi mereka sama sekali tak paham bahwa mereka memiliki pengetahuan. Mereka ... kalian telah mewarisi masa lalu sambil mengemban kemungkinan masa depan pada diri kalian.”

Dan, terlepas dari betapa banyak keajaiban buku yang disampaikan, sebenarnya agak ironis karena saya baca buku ini dalam bentuk e-book. Jadi mungkin beberapa keluhan saya tentang buku ini terkait dengan aplikasinya. Saya baca buku ini di Bookmate, dan sejujurnya ini pertama kalinya menggunakan aplikasi tersebut.

Secara keseluruhan, Bookmate ini nyaman di baca. Ukuran hurufnya, cahaya latarnya, juga bisa diganti jadi gak bikin sakit mata. Ada fitur untuk mengutip buku juga jadi simple kalo mau nandain quote yang kita suka.

Cuman saya lebih suka kalau macam Play Book yang tandanya bisa warna-warni dan bisa dikasih catetan, kan kalau kepikiran sesuatu jadi bisa ditulis.  Dan sebab ukuran hurufnya bisa berubah-ubah akhirnya layout bukunya gak sama dengan buku aslinya. (Terus pas nulisin kutipannya, saya bingung itu dari halaman berapa)

Waktu baca surat Nils dan Berit, saya sebenernya penasaran apakah font di buku aslinya punya dua font yang beda? Kalau misalnya begitu, pasti lebih gampang pas baca bab dua. Soalnya font di bookmate juga bisa diganti-ganti. Yaah, gitu aja sih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...