Kamis, 23 April 2015

Ten Little Niggers - Agatha Christie

goodreads
Judul: Ten Little Niggers (1939)
Judul terjemahan: Sepuluh Anak Negro
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Penerbit: PT Gramedia
Terbit: Cetakan ke-1, 1984
Tebal: 264 hlm
Genre: Suspense, Thriller & Mystery

Sepuluh anak Negro makan malam; Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro begadang jauh malam; Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon; Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu; Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah; Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan; Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut; Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang; Seorang diterkam buaya, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur; Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian; Menggantung diri, habislah sudah.
(hal. 33-34)
Sajak anak-anak itu tergantung dimasing-masing dinding kamar para tamu sebagai skenario kematian mereka. Delapan orang di undang datang ke pulau Negro oleh seseorang bernama U. N. Owen—unknown—. Di pulau itu, ada sebuah rumah modern dan dua orang pembantu. Sepuluh orang di pulau Negro, terisolasi dan dibayang-bayangi hantu masa lalu dan kematian di depan mata.
Ada suatu yang gaib pada sebuah pulau—bahkan kata “pulau” itu sendiri memberikan arti yang fantastis. Engkau terpisah dari dunia—sebuah pulau adalah suatu dunia tersendiri. Mungkin dunia, di mana engkau tak akan pernah kembali. (hal.35)
Saat saya menulis review ini, tangan saya masih bergetar, takut, tegang sekaligus kagum. Sama sekali tidak salah kalau novel ini disebut-sebut sebagai novel terbaik Agatha Christie.

Novel detektif tanpa detektif ini menawarkan ketegangan yang luar biasa. Saya membolak-balik halaman sajak itu untuk mengetahui apa yang terjadi berikutnya. Bertanya-tanya siapa yang mati selanjutnya, dan setiap mencurigai seseorang—sebagai U.N.O—justru orang itu yang mati. Sudah begitu Agatha Christie begitu pandai dalam menyelipkan perasaan mencekam para tokohnya. Membuat pembaca seolah ikut masuk dalam cerita, seolah ikut terancam, menjadi salah satu calon korban.

Kasus ini mungkin akan terus menjadi kasus yang tidak terpecahkan kalau saja bukan karena pengakuan pelakunya. Orang gila yang romantis itu menyelipkan pengakuannya dalam botol yang dilempar kelaut.

Oh ya, saya mungkin harus mengulangi kalau edisi yang saya baca ini adalah cetakan tahun 1984 ... Saya sendiri heran bagaimana buku ini masih bisa dikatakan masih dalam kondisi bagus setelah tiga puluh tahun berlalu. Karena merupakan cetakan lama, ada beberapa yang menarik perhatian saya mengenai terjemahannya. Tidak ada kata Mr, Mrs atau Miss hanya Tuan, Nyonya dan Nona. Dan karena buku ini edisi lama, di buku ini masih ada boneka porselen negro, yang membuat ceritanya semakin menegangkan dengan hilangnya satu persatu boneka setiap jatuhnya korban. Kalau tidak salah, di edisi baru boneka ini dihilangkan untuk mengurangi aura rasis (yang sebenarnya tidak ada, itu kan hanya karena sajaknya)

Buku ini sebenarnya mengingatkan saya tentang novel Agatha yang lain. Setiap tokohnya adalah pembunuh mengingatkan saya pada Cards on the Table, tapi tentu saja buku ini lebih ekstrim karena seluruh tokohnya benar-benar pembunuh, sedangkan pada Cards on the Table masih ada Poirot dkk. Lalu mengenai sepuluh boneka porselen mengingatkan saya dengan The Seven Dials Mystery dengan tujuh jam wekernya. Ide tentang orang yang mati satu persatu juga membuat saya teringat dengan Death Comes at the End. Tapi jelas, buku ini tidak kalah seru.

Dari kesepuluh tokoh, saya paling bersimpati pada Vera Claythorne. Seorang gadis yang kuat tapi rapuh. Sepertinya setelah melakukan ‘pembunuhan’ di masa silamnya ia menjadi sangat hati-hati dan pandai mengatur perasaannya tapi justru ini membuatnya tertekan. Setelah menghadapi banyak ketegangan di pulau Negro ia menjadi sangat histeris dan menyedihkan.

Sementara, yang paling menakutkan adalah Emily Brent. Nenek tua ini hidup di keluarga yang amat agamis. Pandangannya kolot dan dia menganggap dirinya suci. Sampai ia tidak takut pada kematian. Ia sama sekali tidak menunjukkan apapun ketika orang-orang disekitarnya meninggal, seolah tau kalau mereka memang pantas menerimanya.

Meski begitu pikiran kolotnya juga sering membuatnya mengatakan hal-hal baik.
“Hitam atau putih, mereka adalah saudara kita.” (p. 98)
Hanya saja ada beberapa yang menganggu, Lawrence John Wargrave sering disebut sebagai ‘Tuan Hakim’ karena ia memang seorang hakim, meski begitu ia juga sering disebut ‘Tuan Justice Wargrave’, kenapa tidak ‘Tuan Hakim Wargrave’ saja?

Saya juga sangat menyesal mengenai cerita bagaimana akhirnya saya bisa bertemu dengan buku ini. Buku ini saya pinjam dari perpustakaan sekolah adik saya, dan adik saya itu masih SD. Sudah begitu dia bilang ada enam buku Agatha Christie lainnya yang ada di sana. SD!




youtube

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...