Kamis, 06 Oktober 2016

Dumb Witness - Agatha Christie

goodreads
Judul: Dumb Witness
Judul terjemahan: Saksi Bisu
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Indri K. Hidayat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ke-11, Maret 2014
Tebal: 384 hlm
Genre: Mystery & Thriller

“Kalau dia mati, kita toh akan mendapat uangnya—tak ada salahnya kan kalau dia mulai berpisah dengan hartanya sedikit demi sedikit? ...Supaya kita tidak tergoda mempercepat prosesnya.”—p. 25


Saat itu akhir bulan Juni, Poirot sedang melakukan pekerjaan rutinnya yaitu membuka surat-surat yang baru diterimanya dari petugas pos pagi dan sepucuk surat menarik perhatiannya. Sebenarnya, dalam hal isi surat itu hanya berisi omong kosong, secara harfiah, suratnya panjang dan bertele-tele tapi tak mengungkapkan apapun. Hal yang menarik perhatian Poirot pun bukanlah isinya, tapi karena surat itu ditulis pada pertengahan April, dua bulan yang lalu.

Menyadari banyaknya kegelisahan dalam surat itu, Poirot memutuskan pergi ke Market Basing, tempat surat itu dikirimkan. Tapi yang ia temukan adalah kalau sang pengirim surat, Emily Arundell, sudah meninggal. Dan meninggalnya pun wajar saja, Dr. Graiger yang merupakan sahabat Miss Arundell bilang penyebab kematiannya adalah penyakit levernya yang kambuh lagi.

Satu-satunya desas-desus yang mengiringi kematian Miss Arundell mungkin adalah surat wasiatnya. Saat dibacakan, rupanya kekayaan Miss Arundell yang luar biasa itu sama sekali tidak diberikan pada keluarganya melainkan pada Miss Lawson, pelayan pribadinya. Hal itu dilakukan mungkin karena sebuah insiden yang menyebabkan Miss Arundell jatuh dari tangga.

Meski begitu, pengalaman Poirot selama bertahun-tahun membuatnya merasa baik kecelakaan tangga itu maupun kematian Miss Arundell sama sekali bukan kecelakaan. Dan sekarang ini sang pembunuh masih berkeliaran, bersiap menyerang korban berikutnya.

Daripada novel Agatha Christie kebanyakan, Saksi Bisu terbilang punya tokoh yang lebih sedikit dengan hanya ada enam tersangka utama, bahkan jika mengikuti red herringnya mungkin hanya ada tiga orang yang benar-benar paling mencurigakan. Tapi bisa ditebak, jawabannya sama sekali tidak terduga. Soalnya pembaca dibuat mengira si tokoh yang paling gak mencurigakan ini punya peran penting lain, daripada sekedar tokoh-lain-yang-gak-terlibat-langsung-tapi-bisa. *apaansih* Poin plusnya sih, karena tokohnya ga terlal banyak, jadi gak terlalu pusing juga buat ngehafalin mereka.

Ide pembunuhnya sendiri juga beda, alih-alih pembunuhan terang-terangan, si pembunuh begitu cerdik menyembunyikan perbuatannya sehigga hanya seperti kecelakaan. Akhirnya, Poirot pun harus mengikuti permainannya dengan menutupi penyelidikkannya dari semua orang. Berpura-pura jadi ini dan itu supaya tak ada yang curiga kalau ia curiga bahwa ada pembunuhan. Lucu juga sih, karena tipuan-tipuan ‘amoral’ ini buat Hastings jadi sering kesal *orangkeselkokkamuseneng,fat?*.

Lalu kombinasi tiga hal tersebut (sudah dua bulan, tokoh sedikit, dan kepura-puraan) jelas memaksa sulitnya didapatkan bukti fisik, dan akhirnya kita balik lagi ke analisa psikologi. Memang ciri khas Agatha sih, tapi heran ya, kalau dipikir-pikir, selama saya baca buku Agatha Christie, gak pernah ada tokoh yang benar-benar mirip antar bukunya, padahal lebih dari 80 buku tuh ckckck

Dan terakhir, meski cerita buku ini keren banget. Ada satu hal yang bikin saya ngerasa harus memperingatkan sesuatu sebelum baca. Sebenernya gak terlalu heboh sih, cuma ya, novel ini dituli tahun 1937 dan Poirot sudah pernah menangani beberapa kasus. Dan secara implisit dia menyinggung pelaku pembunuhan kasus-kasus tersebut. Dengan kata lain spoiler! (ini sebabnya juga saya gak terlalu semangat bacanya, dan review ini jadi melempem) *alesankamu,fat*

“Dari kesulitan dalam hidup, kita belajar banyak hal...”—p. 191

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...