Rabu, 30 September 2015

Pride and Prejudice - Jane Austen

goodreads
Judul: Pride and Prejudice (1813)
Pengarang: Jane Austen
Penerjemah: Berlini Mantili Nugrahani
Penerbit: Penerbit Qanita
Terbit: Cetakan ke-2, Maret 2015
Tebal: 588
Genre: Classic, Romance
Elizabeth Bennet dan Fitzwilliam Darcy sama sekali tidak cocok. Elizabeth menilai Mr. Darcy sebagai pria yang sok, angkuh, dan mengesalkan, sementara Mr. Darcy menganggap Elizabeth tidak anggun dan terlalu sering berprasangka.

Mereka saling bermusuhan, bahkan sering kali saling melontarkan sindiran pedas. Tapi kebencian mereka berangsur menjadi ketertarikan. Seiring berjalannya waktu, Elizabeth melihat sisi lain Fitzwilliam Darcy, bahwa dia bukanlah sekadar pria arogan seperti yang selama ini dia sangka.

Dalam Pride and Prejudice, Jane Austen menuangkan detail yang memikat tentang kisah kaum menengah ke atas pada abad ke-19. Kisah dan karakternya yang memukau membuat novel ini menjadi salah satu roman paling populer dan dicinta sepanjang masa.
Saya sempat takut ketika melihat ketebalan buku ini, belum dengan genre ‘romance’ yang membayangi. Tapi begitu melihat fontnya yang besar-besar, saya sedikit lebih tenang, dan hei, pasti ada alasan kenapa buku ini bisa disebut ‘klasik’ kan?

Meski begitu, rupanya memang butuh cukup waktu untuk menyelesaikannya, (selain karena saya hanya membacanya disela-sela waktu di sekolah) konfliknya mengawang dan baru agak seru di akhir buku. Dan ekspektasi saya tidak terlalu terpenuhi karena mungkin, kisah romance P&P ini—benci jadi cinta—sudah banyak menginspirasi kisah-kisah romantis lain yang akhirnya membuatnya terdengar biasa.

Yang membuat saya akhirnya bisa menyelesaikan buku ini justru adalah, keunikkan tokoh-tokohnya. Keluarga Bennet yang ‘aneh’ menjadi beban tersendiri bagi orang tercerdas di keluarganya itu, Elizabeth. Walau ada ayahnya yang mungkin memahami dirinya, tapi beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan daripada berusaha memperbaiki kebobrokan keluarganya. Tersisalah, Jane dan Lizzy yang harus menghadapi Mrs. Bennet, Lidya dan Kitty yang selalu bersikap memalukan.
“Betul,” kata Mr. Bennet, “tapi, akan lebih menenangkan jika kau berpikir bahwa apa pun yang akan membuatmu patah hati, kau selalu punya seorang ibu yang penuh kasih sayang, yang akan memperparah penderitaanmu.”—p.213-214

Selain itu, menyenangkan sekali membaca saat-saat ketika Elizabeth atau Darcy bersikap nyinyir terhadap hal-hal kecil.
“Tidak ada yang lebih menipu,” kata Darcy, “daripada kerendahan hati. Sering kali itu hanya menjadi ungkapan semata, dan terkadang justru disampaikan menyombongkan diri secara diam-diam”—p.75-76
Dan syukurlah, diatas semua itu, gaya penceritaanya yang sederhana dan tidak berbelit-belit mencegah saya mengerutkan kening dan menaruh buku ini selama-lamanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...