Minggu, 22 Februari 2015

Problem at Pollensa Bay - Agatha Christie

goodreads
Judul: Problem at Pollensa Bay (1991)
Judul terjemahan: Masalah di Teluk Pollensa
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Widya Kirana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ke-6, Maret 2014
Tebal: 296 hlm
ISBN: 978-979-22-7231-4
Genre: Classic, Crime, Romance, Thriller & Mystery

Buku ini adalah kumpulan cerpen Agatha yang pernah diterbitkan di media massa. Ada delapan cerita, enam diantaranya merupakan kisah misteri dan dua lainnya romance. Meski begitu, jelas sekali cinta memang menjadi tema utama dalam kumcer ini.

Kisah pertama adalah Masalah di Teluk Pollensa, yang tokoh utamanya adalah Mr. Parker Pyne. Ini pertama kalinya saya membaca Parker Pyne, dan kesan saya, ia mempunyai cara dan tipu daya yang unik seperti Poirot namun juga sangat romantis seperti Hastings.


Dalam cerita, dikisahkan bahwa Parker Pyne sedang berlibur di Majorca. Lalu tiba-tiba ia bertemu Mrs. Chester, dan ia mempunyai seorang anak yang baik hati bernama Basil. Hanya saja, Parker Pyne, dengan jelas bisa melihat bahwa wanita itu dalam masalah, ia tidak bahagia.

Tidak, aku tak mau bekerja saat ini. Begitu pikir Mr. Pyne. Meski begitu ia tetap berinteraksi dengan Mrs. Chester walau dengan nama samaran. Bertemu sesama orang Inggris di luar negeri memang sesuatu yang menyenangkan kan? Lalu datanglah Nina Wycherley, kenalan Mrs. Chester, yang ternyata mengenal Mr. Parker Pyne.

Setelah mengetahui siapa sebenarnya Mr. Pyne, Mrs. Chester tak dapat menahan diri untuk berkonsultasi dengannya dan diketahuilah bahwa alasan ketidakbahagiannya adalah karena putranya yang bergaul dengan Betty Gregg yang menurutnya akan mengahancurkan hidup putranya itu; Betty sendiri rupanya memiliki perasaan yang sama terhadap Mrs. Chester; sedangkan Basil tak dapat memilih salah satu dari keduanya. Ketiga pihak sama-sama ingin keinginannya yang terwujud, lalu keadaan bukannya menjadi lebih baik ketika Basil bertemu wanita lain.

Kisah pembuka ini, meski tidak terlalu menghebohkan, mampu membuat saya mengacungkan jempol pada Mr. Pyne
“..., anak-anak muda itu selalu memakai alasan seni untuk membenarkan sikap mereka yang malas-malasan, ...” p. 15
*** 
aster
Cerita kedua berjudul Gong Kedua.
Tetapi, yang baru datang itu bukan Lytcham Roche. Bukan pria tinggi besar, bercambang dan berjenggot, bertubuh raksasa seperti orang Viking. Yang datang seorang pria bertubuh kecil, jelas orang asing, dengan kepala berbentuk telur, kumis yang tebal dan mengesankan, dan setelan jas yang paling aneh. p. 46
Hubert Lytcham Roche, menganggap dirinya raja. Jika ada orang yang melanggar peraturannya, jangan pernah berharap ia akan bersikap ramah lagi padanya. Termasuk peraturan bahwa makan malam harus dilaksanakan pukul 20.15 . Namun, ada yang ganjil malam itu. Makan malam akan diundur sepuluh menit karena kereta yang membawa Poirot terlambat 30 menit. Meski begitu, bahkan ketika gong kedua tanda makan malam sudah siap si tuan rumah belum juga turun untuk makan malam.

Saat ruang kerja, ditemukan pria itu telah tewas. Kepalanya berlubang, sementara tangan kanannya terkulai dan di bawahnya terdapat pistol kecil.

Polisi menyimpulkan ini bunuh diri. Tapi, bagaimana pun, Poirot tau orang seperti Lytcham Roche tidak mungkin bunuh diri. Lagi pula, ia datang kesini karena Lytcham Roche sendiri meminta bantuannya untuk mengungkap ‘perampok’ dalam rumahnya. Maka, jelaslah bagi Poirot, pembunuh ini adalah orang yang sama dengan ‘perampok’ itu.

Masih dengan analisa psikologi yang pelik, meski begitu, kali ini Poirot menunjukkan keahliannya dalam meneliti jejak kaki dan hal-hal teknis. Dan saya selalu suka caranya mengungkap identitas si pelaku, dramatis.

***

iris
Selanjutnya, Bunga Iris Kuning yang ternyata merupakan versi sederhana dari Kenangan Kematian (Sparkling Cyanide). Empat tahun lalu, Iris Russell tewas dalam makan malam di suatu restoran di New York saat lampu di padamkan, keracunan sianida. Hari itu, Poirot diundang oleh seorang misterius agar turut hadir dalam makan malam peringatan kematian Iris. Lalu, Barton Russell meminta lampu-lampu dipadamkan dan pemain band diminta untuk menyanyikan lagu yang sama saat Iris mati. Kemudian, saat lampu dinyalakan lagi, Pauline, tewas, teracuni sianida.
“Saya? Menelepon kawan? Tidak! Aneh benar pertanyaan anda.”
“Ah, tapi saya memang pria aneh” (--Poirot) p. 90
Awalnya saya kira, penyelesaian kasus ini juga akan sama dengan Kenangan Kematian. Tapi, ternyata tidak. Kalau dipikir-pikir memang ada tokoh yang kurang kalau disamakan dengan Kenangan Kematian.

***

lily
Perangkat Minum Teh Harlequin adalah perkenalan pertama saya dengan Mr. Satterthwaite dan juga Mr. Harley Quin. Mr. Satterthwaite akan menemui kawan lamanya, Tom Addison. Tom Addison kini sudah tua, dan ia bisa dikatakan telah berhasil dalam hidupnya. Ia hidup dengan tenang dan sederhana di rumah tuanya bersama cucu-cucu dan menantunya. Meski begitu, tetap saja ada bahaya yang hendak menyerang keluarganya.
“.... Kurasa kata ini mungkin akan berguna.”
“Kata apa?”
Daltonism,” kata Mr. Quin. Dia tersenyum. p. 138
Membaca kisah ini, sekarang saya mengerti kenapa orang-orang bilang kalau Mr. Quin bukan manusia.  Ohya, Agatha Christie sepertinya memang paling jago kalau menciptakan suatu sejarah keluarga. Tidak pernah ada keluarga yang biasa-biasa saja dalam ceritanya, bahkan lagi-lagi saya butuh pohon keluarga untuk bisa mengingat mereka dan hubungannya.

***

regatta
Lalu, Misteri Regatta. Saya tidak mengerti kenapa judulnya Misteri Regatta, memang disebutkan
“Sebagian besar berita tentang Regatta,” p. 177
Terus kenapa? Apa karna korannya? Saya cari di google pun Regatta adalah semacam kawasan liburan di dekat pantai, dan bukan di Inggris ataupun kawasan Eropa atau Timur Tengah. Kecuali, kemudian saya menemukan regatta adalah nama bunga di samping. Tapi, tetap saja, saya tidak melihat hubungannnya.

Skip. Misteri Regatta, bercerita mengenai Evan Llewellyn (namanya ngajak ribut) yang dituduh mencuri berlian Morning Star milik Mr. Isaac Pointz. Llewellyn jelas tau bahwa dirinya tidak mencuri berlian itu, ia meminta bantuan Parker Pyne untuk membantunya membersihkan namanya, agar ia tidak merasa malu pada Janet Rustington. 
Llewelly yang masih muda itu—dia agak pendiam. Kelihatannya selalu ada yang dipikirkannya. Mungkin punya masalah berat. Orang-orang yang suka menulis memang biasanya seperti itu. p.171
Tokoh dalam cerita ini kayaknya kebanyakan. Saya pusing membedakan beberapa tokoh, ataupun perannya. Janet Rustington terlalu banyak diam, dan saya salah mengira bahwa LeoStein adalah ayah Eve. Sir George dan Lady Marroway kelihatannya sama sekali tak memiliki peran.


*** 

venus
Detektif-detektif Cinta. Jujur, saya tidak terlalu paham sama cerita ini, mungkin karna saya mulai lelah *eh. Ada mayat Sir James Dwighton di perpustakaan dan semua orang mengaku telah membunuhnya. Yang lucu dalam cerita ini adalah, secara berulang Kolonel Melrose mengatakan ‘ini seperti cerita detektif’ atau ‘ini seperti dalam novel’.

***

Cerita Lebih Penting Seekor Anjing membuat saya shock ketika menghadapi kenyataan bahwa ceritanya sudah berakhir. Misterinya mana? Meski begitu ketegangan Joyce memang memilukan.

Hidup Joyce hancur setelah kekasihnya tewas, ia miskin dan tak punya pekerjaan. Satu-satunya yang ia miliki adalah Terry, anjingnya. Ia mencintai anjingnya melebihi apapun, dan rela melakukan apapun demi anjingnya itu. Termasuk menikah dengan orang yang dibencinya.

Saya benar-benar penasaran apa yang terjadi selanjutnya antara Joyce dan Mr. Allaby?

***

magnolia
Sekuntum Magnolia, juga mempunyai kisah yang menarik. Theodora sudah akan meninggalkan suaminya demi Vincent. Meski begitu, ia kembali lagi ketika tau Richard dalam masalah. Ia bahkan rela melakukan apapun demi suaminya, hingga akhirnya ia tau bahwa Richard tidak sebaik yang ia kira. Sama, seperti Lebih Penting Seekor Anjing, cerita ini bikin sesak



Secara keseluruhan, mungkin memang bukan kisah-kisah yang wah. Tapi yah, menarik untuk dibaca.

*review macam apa ini?*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...