Rabu, 29 Oktober 2014

The Giver - Lois Lowry

Judul: The Giver (1993) 
Judul terjemahan: Sang Pemberi 
Pengarang: Lois Lowry 
Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman 
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Terbit: Cetakan ke-1, Agustus 2014 
Tebal: 232 hlm 
Genre: Dystopia 
ISBN: 978-602-03-0668-1 

Distopia didalam utopia 

Kehidupan di Komunitas Jonas selalu teratur. Semua berjalan dengan lancar dan aman. Karna pemikiran yang terlalu jauh, para pendahulunya memutuskan untuk hidup dengan cara begitu. Membuat kesamaan, mempermudah segala sesuatu bagi semua orang. Namun ingatan masa lalu tentang kehidupan yang lebih berwarna tidak bisa dibuang begitu saja. Ingatan itu dibutuhkan, sebagaimana tujuan mempelajari sejarah. Agar kita tidak terjebak pada kesalahan-kesalahan yang sama. Tapi tidak semua orang sanggup menerima ingatan. Apalagi setelah terbiasa dengan kehidupan yang teratur dan fokus. Maka dipilihlah seorang Penerima, yang menanggung ingatan masa lalu di seluruh dunia baik yang menyenangkan pun yang menyakitkan.

Saat Jonas menjadi Dua Belas, sama seperti teman-temannya, ia menyambut Upacara Dua Belas dengan gembira sekaligus khawatir. Ia yakin, para Tetua akan memilihkan mereka pekerjaan yang tepat dan hati-hati. Namun tidak seperti Asher atau Fiona, ia tidak punya ide apa pekerjaannya nanti. Hingga saat Tetua mengumumkan bahwa ia akan menjadi penerima, sikap semua orang menjadi berbeda padanya. 

Jonas, sama seperti warga komunitas yang lain sebelum menerima ingatan. Merasa cukup dengan kehidupan mereka sekarang. Lagipula, mereka tidak bisa memikirkan kehidupan yang lebih baik atau lebih buruk. Yang mereka ketahui hanya yang terjadi pada mereka.

Bahkan diawal ia menerima ingatan, ia masih merasa kehidupan Komunitas adalah yang terbaik. Tidak ada bahaya, tidak ada kesalahan, tidak ada penyesalan. Tapi tentu saja semakin lama, entah karena kasihan atau merasa menjadi korban keegoisan Komunitasnya, Jonas muak dan ingin perubahan. Menjadi seperti masa lalu yang lebih lengkap. Dengan warna-warna, perasaan-perasaan yang lebih dalam dan lebih akurat. Apalagi ketika ia tau, bahkan kematian ditentukan oleh Komunitas dan ironisnya mungkin mereka tidak tau apa itu kematian.

Buku ini bukan buku petualangan, mungkin hanya buku penuh pemahaman. Tapi itulah kelebihannya. Dan saya suka endingnya. Sebebas Jonas menentukan pilihannya --pada akhirnya-- sebebas itu pula pembaca menentukan tempat Jonas mengakhiri perjalanannya. Saya sendiri punya ending versi saya sendiri. 

Sementara awal buku ini berjalan lambat sekali. Mungkin karna saya terlalu menunggu Upacara Dua Belas Jonas, padahal kejadian itu masih setengah buku. Pembukaan buku ini lebih banyak menjelaskan tentang Komunitas itu sendiri, kebiasaan dan aturan. Seolah mengajak pembaca untuk turut mencintai dunia Jonas yang sempurna. 

Sementara itu tokoh favorit saya adalah Lily *gak ada yang nanya*, ia mewakili kepolosan dan ketidaktahuan Komunitas. Saya suka ketika ia bertanya-tanya bagaimana jika, bagaimana kalau. Memberi kesan bahwa ia bisa berkembang, bisa mengetahui rahasia Komunitas, tapi tentu saja hal itu harus dicegah. 

Saya sempat bingung waktu nyari buku ini di tokbuk, rupanya covernya ganti. Dan sempat kecewa karena saya lebih suka cover yang warna-warni itu dan ternyata covernya bukan ganti, tapi double. Dan harus diakui bahwa saya beli buku ini gara-gara filmnya. Walau sampai sekarang pun belum sempat nonton film nya, nggak tau deh masih ada atau enggak di bioskop. Tapi sepertinya akan jauh berbeda sekali ya, saya tidak punya ide bagaimana caranya cerita ini diubah ke film. Dari trailernya juga banyak yang berbeda, entahlah.


2 komentar:

  1. ternyata absurd juga ya The Giver ini. saya masih belom sempet baca atau nonton filmnya. review ini jadi bikin penasaran bukunya gimana :D

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...