Kamis, 06 November 2014

Appointment with Death - Agatha Christie

Judul: Appointment with Death (1938) 
Judul terjemahan: Perjanjian dengan Maut 
Pengarang: Agatha Christie 
Penerjemah: Indri K. Hidayat 
Desain & ilustrasi sampul: Satya Utama Jadi 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Terbit: Cetakan ke-10, Oktober 2013 
Tebal: 272 hlm 
Genre: Classic, Crime, Thriller & Mystery 
ISBN: 978-979-22-2846-5

Mrs. Boynton digambarkan sebagai seorang tiran, gila, sadis, kejam dan menyeramkan ia bahkan mempunyai sorot mata selicik ular. Ia tidak membiarkan keluarganya bergaul dengan orang lain. Bahkan keuangan keluarga pun sepenuhnya di pegang olehnya. Ia mempunyai ambisi untuk berkuasa dan berhasil membuat anak-anaknya mengalami gangguan mental.

Mrs. Boynton sendiri adalah istri kedua dari Elmer Boynton. Dari istri pertamanya, Elmer memiliki tiga anak: Lennox, Raymond dan Carol. Lennox Boynton sudah berusia tigapuluhan, tidak bekerja dan sudah beristri. Ia adalah yang paling lama menghadapi siksaan mental dari ibunya, ia kini sudah menyerah dan tidak mencoba melawan lagi. Sementara istrinya, Nadine sudah amat lelah dengan kehidupan mereka. Nadine menikah dengan Lennox saat masih sekolah perawat lalu tinggal bersama ibu mertuanya. Apalagi kemudian datang Mr. Jefferson Cope, pemuda Amerika yang ramah. Mereka dulu pernah dekat sebelum Nadine menikah, dan sekarang Cope mencoba membebaskan Nadine

Raymond dan Carol masih memiliki semangat untuk hidup, mereka masih berusaha untuk memberontak tapi rasa takut mereka lebih kuat. Namun akhir-akhir ini berkat kedatangan Sarah King, gairah hidup Raymond jadi meningkat. Ia mencintai Sarah dan Sarah juga begitu. Dokter muda ini juga sangat membenci Mrs. Boynton sebagaimana anak-anaknya.



Sementara itu, Mrs. Boynton juga mempunyai anak kandung dari Elmer. Usiannya masih 17an, namanya Ginevra. Namun, rupanya Mrs. Boynton tidak terlalu berhasil menguasai Jinny. Alih-alih takut padanya, Jinny berfantasi bahwa dirinya adalah putri yang diculik, dan mengaggap Dr. Gerard mencintainya. Menurut Dr. Gerard sendiri --ia dokter penyakit saraf yang terkenal-- Jinny mempunyai kemiripan dengan ibunya. Mereka sama-sama ingin dianggap hebat.

Perjalanan ke Timur Tengah ini sebenarnya sangat asing bagi keluarga Boynton. Mereka yang biasanya terisolasi tiba-tiba diajak keluar negeri oleh Mamanya. Namun, ternyata penderitaan mereka justru menjadi lebih menyakitkan. Menyadari betapa menyedihkannya mereka ketika melihat cara orang-orang memandangi mereka membuat mereka semakin gila. Bahkan Raymond dan Carol berencana untuk membunuh ibunya.

Lalu pada suatu hari di Petra. Mrs. Boynton menyuruh anak-anaknya untuk pergi berjalan-jalan sendiri. Ini adalah suatu keganjilan yang amat melegakan. Namun pada sore harinya, Mrs. Boynton ditemukan tewas. Dan hari itu anak-anak Boynton lah yang ditemukan terakhir bersamanya.

Baiklah, Mrs. Boynton memang jahat. Tapi menghilangkan nyawa orang lain secara paksa tetaplah tidak bisa dibenarkan. Lagipula, sebenarnya keadaan psikologis Mrs. Boynton juga menyedihkan. Dan kasus ini semakin sulit karena keluarga Boynton seolah saling melindungi, begitupun orang-orang yang bersimpati pada mereka.

Setengah buku ini hampir hanya menceritakan kekejaman dan penderitaan. Atau memang pembaca dibuat hanya fokus kesitu. Lalu Poirot mewawancarai orang-orang dan dalam 24 jam menunjuk pelakunya. Tentu tidak langsung begitu saja. ia berbaik hati membeberkan kemungkinan-kemungkinan, mencocokkan dengan keadaan psikologis. Hingga berhalaman-halaman.

Ngomong-ngomong, harus diakui penyelesaian kasus ini kurang seru. Kasus ini full psikologis, tapi Poirot bilang bahwa sulit untuk menemukan bukti yang bisa diterima pengadilan. Memang sih, kemungkinannya lebih sederhana. Yang tidak seru adalah karna penjahat itu tidak di hukum di pengadilan dan mungkin tidak bisa, dan bahkan nama buruk pun ia tidak mendapatkannya. Penjahatnya ini memang sudah menyebalkan sejak awal. Dan covernya enggg, kurang gimana gituuu.

Saya suka endingnya, rasanya saya turut bahagia. Bahagia sekali. Kisah penderitaan yang luar biasa diawal sukses membuat simpati yang sangat besar bagi keluarga Boynton. Walau gaya bicara mereka masih kekananak-kanakan, dengan bantuan orang-orang baik disekitar mereka, keluarga Boynton pasti bisa berkembang.

Oh ya, kemahsyuran Poirot rupanya ditorehkan dengan kekaguman para tokoh dengan menyebutkan kasus-kasus besarnya. Seperti The A.B.C Murder, Cards on The Table dan Murder on The Orient Express.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...