Minggu, 02 November 2014

Lord Edgware Dies - Agatha Christie

Judul: Lord Edgware Dies (1933) 
Judul terjemahan: Matinya Lord Edgware 
Pengarang: Agatha Christie 
Penerjemah: Lily Wibisono 
Desain & ilustrasi sampul: Satya Utama Jadi 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Terbit: Cetakan ke-8, Oktober 2013 
Tebal: 336 hlm 
Genre: Classic, Crime, Thriller & Mystery 
ISBN: 978-979-22-2885-4
"Dan malamnya--pada hari yang sama--Lord Edgware mati. Judul yang bagus, ya? Matinya Lord Edgware. Bagus juga kalau terpampang di rak toko buku," p.151
Jane Wilkinson adalah istri kedua Lord Edgware. Ia meminta Poirot agar membujuk suaminya agar mau bercerai dengannya. Hal itu karena ia telah jatuh cinta pada Duke of Merton dan berencana akan menikah dengannya tapi tentu tidak bisa jika ia masih menjadi istri sang Lord. Ia meminta pada Poirot untuk menggunakan kecerdasannya, jika masih gagal ia sesumbar akan membunuh suaminya sendiri. Jane memang artis yang kekanakan juga egois.
"Otak. Otak. Apa sih yang benar-benar kita maksudkan dengan istilah itu? Menurut pengertianmu tentunya Jan Wilkinson punya otak setingkat kelinci saja. Itu namanya menghina. Coba pikir, kelinci itu dapat berkembang dengan baik. Ya, kan? Nah, dalam alam itu merupakan tanda keunggulan." p.138
Sementara Lord Edgware sendiri adalah orang yang sulit. Ia menolak berpisah dengan istri pertamanya, sampai istrinya itu meninggal. Ia juga mengusir keponakannya sendiri, Kapten Ronald Marsh dari Regent Gate; dan Geraldine Marsh, anaknya sendiri membencinya. Bahkan menurut sekertarisnya, Miss Caroll yang jujur dan objektif. Lord Edgware memiliki banyak musuh. Sehingga saat kematiannya diumumkan, wajar tak ada yang meratapinya.

Semua orang menuduh Jane Wilkinson yang membunuh suaminya itu, seperti yang pernah dikatakannya. Apalagi dengan jelas kepala pelayan dan Miss Caroll melihatnya masuk ke rumah dan berteriak "Ini Aku Lady Edgware". Tapi, Jane tak punya alasan untuk membunuh suaminya. Dia sudah mengetahui dari Poirot bahwa Lord Edgware bersedia untuk bercerai, bahkan sudah sejak enam bulan lalu beliau mengirim surat pada Jane yang menyatakan hal itu—meski Jane mengaku tidak mendapatkannya—dan pada malam itu, disaat yang bersamaan dengan waktu pembunuhan Lord Edgware. Jane sedang berada di pesta Sir Montagu Corner di Chiswick dengan dua belas orang lainnya.

Jadi, Jane Wilkinson ada di dua tempat secara bersamaan? Saat itulah, Poirot teringat pada pertunjukan Carlotte Adams. Di malam ketika Jane meminta bantuannya, mereka menonton pertunjukan Teater yang menampilan Carlotte Adams yang melakukan Imitasi terhadap Jane Wilkinson, dan itu adalah pertunjukan yang memukau. Namun saat ia menyadari hal itu berhubungan. Charlotte Adams sudah tewas, over dosis Veronal.

Kasus ini semakin rumit terutama bagi Hastings, karna Poirot bersikap aneh.

Saya suka buku ini karna penyelesaian yang ternyata sederhana. Selain itu karena saya menyadari suatu fakta penting sebelum Poirot menyadarinya (Huaa saya bangga :3). Terimakasih pada tatabahasa. Walau pada akhirnya saya tetap menunjuk orang yang salah. Tapi, itu pasti gara-gara Duchess of Merton, *lho?. Enggak deng, justru saya suka sama Duchess of Merton. Saat saya menunggu-nunggu kehadiran tokoh nenek-nenek, baik nenek-nenek rempong maupun nenek-nenek cerdas, karena Novel Agatha hampir selalu ada tokoh seperti ini. Duchess of Merton muncul tepat ketika saya memikirkan hal itu, kebetulan yang luar biasa? Tak ada yang kebetulan, semuanya adalah takdir :3. Walau ia hanya muncul sekali dan terkesan tidak penting. Duchess of Merton berperan sangat penting lo, khususnya dalam membangun pemikiran pembaca, secara tidak langsung ia membuat pelaku menjadi semakin selamat dari dugaan pembaca.

Disini buku ini peran Japp juga terasa banyak sekali. Ia sering sekali muncul. Tapi seru juga sih melihat mereka lebih sering menyindir satu sama lain. Tapi, yah Japp ini emang tokoh yang nyebelin. Udah untung ditolongin Poirot, Poirot juga gak minta 'ongkos' tetep aja dia meremehkan sel-sel kelabu pria kecil ini
Poirot memandanginya dengan kuyu dan sedih. 
"Kau selalu begitu--penuh percaya diri! Kau tak pernah bertanya pada diri sendirii--Mungkinkah memang begini? Kau tak pernah ragu atau bertanya-tanya. Kau tak pernah berpikir: Ini terlalu mudah!" 
"Memang tak pernah. Dan disitulah, maaf kau jadi sering terpeleset. Kenapa tak boleh ada perkara yang mudah? Apa salahnya suatu perkara itu mudah-mudah saya?" p.240

Fokus buku ini lebih banyak ke pengetahuan, Paris dan selebritas, dan kalau boleh dibandingkan, Lord Edgware Dies mirip-mirip sama Toward Zero dan The Myterious Affair at Styles. Mirip saja, tidak sampai sama tentunya.

***
"Memang begitu seharusnya. Tak ada seorang manusia pun yang harus belajar dari manusia lain. Tiap individu harus mengembangkan kemampuan-kemampuannya sendiri semaksimal mungkin, bukannya meniru kemampuan orang lain. ..." p.165

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...