Minggu, 11 Mei 2014

NEGERI PARA BEDEBAH - Tere Liye

Judul : NEGERI PARA BEDEBAH
Pengarang : Tere Liye
Desain & Ilustrasi sampul : eMTe
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan ke-1, Juli 2012
Jumlah Halaman : 440 hlm

ISBN : 978-979-22-8552-9 
Genre : Thriller, Action, Mystery, Crime


Setelah selesai membaca cerbung Bumi yang hanya 20 episode plus bolong-bolong itu. Saya teringat ketika pernah 'menjelajahi' fanpage Tere Liye di tahun 2011 (No! I didn't stalk, I investigate!) Ada beberapa cerbung berjudul 'Bangsat-Bangsat Berkelas' . Maka saya googling kalimat itu.

Dan menyesal pernah membacanya, bukan karena ceritanya tidak seru, malah sebaliknya seru sekali. Sialnya, di 92% cerita. Ceritanya di stop, saya harus baca novelnya, demi 8% sisanya. Yang ternyata setelah di bumbui rasa penasaran, rasanya lebih baik dari 50%.

Dibuka dengan kenyataan menyebalkan bahwa Thomas yang baik hati harus membantu Om Liem, penjahat ekonomi, untuk melarikan diri dari jeratan kebangkrutan. Sebenarnya, Thomas sangat membenci Om Liem, benci sekali. Perbuatannya ini juga bukan atas nama kasih sayang terhadap Om Liem. Simpel saja, Dendam, dendam atas kematian orang tua-nya. Orang jahat yang sama ingin menghancurkan keluarganya dua kali, mana bisa Thomas membiarkannya. Maka jangan heran, dalam sisa waktu dua hari ia harus bisa menyelamatkan Bank Semesta, agar penjahat itu tidak bisa tertawa dua kali.


Memang, tak ada yang bisa jadi benar-benar tokoh protagonis dalam buku ini. Semua orang jahat, licik, bahkan Thomas sendiri. 'Dunia ini tidak hitam-putih' . Teman saya yang baik-hati-yang-ibu-nya-penggemar-tere-liye-itu-tea sampai marah-marah ketika tau Thomas berhasil lolos dari polisi. Saya hanya bisa menyeringai, bagaimanapun pembaca butuh pahlawan. Jadi, saya menjadikan Opa dan bu Menteri sebagai pahlawan. Horeee!! *ganyambung

Selain itu, sedikit banyak buku ini menjelaskan secara sederhana prinsip ekonomi modern (yang kotor). Dan sangat menarik mengetahuinya

Ohya, buat kalian pembaca 'Bangsat-Bangsat Berkelas', disini ada beberapa revisi dari cerbungnya. Misal kata 'Bangsat' yang diganti Bedebah. Atau 'Biru' diganti 'Lembayung'. Tidak penting sih, tapi urusan Biru dan Lembayung ini merusak imajinasi saya sebelumnya. Tapi, seandainya tidak diganti juga bisa bahaya. Nanti si Biru tersinggung.

Sayangnya efek kejutannya agak kurang menggelegar. Beberapa terlalu terbuka petunjuknya, seperti cerita Opa yang diselipkan seakan tidak penting tapi itu penting, itu terlihat jelas. Atau, penghianat yang dimaksud Thomas, jelas dia sudah menyebutkan suatu keganjilan dari orang itu. Tapi, tidak masalah, karena kejutan yang sesungguhnya yang paling penting, (meskipun mungkin pernah terlintas di pikiran pembaca) benar-benar di luar ekspetasi.

Kesimpulannya buku ini seru, dan siapa sih yang tidak suka action? Eh, tapi bisa saja ada sih..

Sekarang, ah, lagi-lagi karena ini buku berseri, saya harus menunggu sampai ada kesempatan membaca Negeri Di Ujung Tanduk. (Untuk menjawab pertanyaan yang belum terjawab)

Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya. (269)
Terlambat adalah terlambat. Tidak ada bedanya terlambat beberapa detik dengan terlambat beberapa jam. (274) *buat teman-teman ku yang suka ngaret satu jam. Semoga kalian baca ini* 
Melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal, adalah cara tercepat belajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...