Minggu, 18 Mei 2014

The Seven Dials Mystery - Agatha Christie

Judul Asli : The Seven Dials Mystery (1929)
Judul Terjemahan : Misteri Tujuh Lonceng
Pengarang : Agatha Christie
Alih Bahasa : Mareta
Desain & Ilustrasi Sampul : Staven Andersen
Proof Reader : Yuliono

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 
Terbit : Cetakan ke-7, Agustus 2012 
Jumlah Halaman : 304 hlm 
ISBN : 978-979-22-8367-9 
Genre : Misteri, Detektif, Kriminal, Klasik, Dewasa


Terbiasa membaca buku bantal, rasanya aneh kembali ke buku Agatha, yang tipis, kecil dengan tulisan besar, tak masalah saya cepat menyesuaikan diri.

Saya sempat kecewa karena tak ada Poirot di rak buku Gramedia, (ditambah kenyataan keesokan harinya ada diskon, saya kecewa sekali) . Tapi, membacanya, saya tak pernah kecewa. Memaki diri sendiri? Oh jelas! Berkali-kali saya berkata dalam hati "Seharusnya aku tau!!".

Lagi-lagi kita dihadapkan dengan seorang Lady baik hati yang senang petualangan. Di rumahnya, beberapa waktu lalu, ketika di sewakan, ada seorang pria meninggal di kamarnya, Gerald Wade. Anehnya, setelah ia meninggal, jam-jam weker yang di gunakan untuk mengerjai Gerry, disusun rapi di atas perapian, tapi hanya ada tujuh jam. Ya, itu melambangkan Tujuh Lonceng. Di laci kamarnya, Lady Eileen Brent alias Bundle. Terdapat surat terakhir Gerry untuk adiknya yang juga menyebutkan Tujuh Lonceng. Keganjilan-keganjilan, membuat orang-orang bertanya. Mungkinkah Gerry di bunuh? Bukan meninggal karena over dosis obat tidur? Karena kenyataan bahwa Gerry bukanlah peminum obat tidur.


Maka petualangan-pun di mulai, Bundle merasa harus pergi ke London, untuk mencari masalah. Di perjalanan ia menemukannya (masalah). Ketika sedang mengendarai mobilnya, ia di kejutkan oleh seorang pria yang jatuh menggelinding dari sebuah rumah, itu adalah Ronny Devereux, sahabat karib Gerald Wade. Dan menariknya, ketika menjelang ajal, ia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih gelap bagi Bundle. Tujuh Lonceng.

Bundle yakin ada yang salah dengan Tujuh Lonceng, maka dengan bantuan Jimmy Thesiger dan Loraine Wade (yang anehnya saling menyembunyikan rencana dari satu-sama lain) mereka berusaha membuka tabir dan kedok Tujuh Lonceng.

Saya masih tidak mengerti, kenapa saya ngeyel tidak menerima fakta yang bisa di terima dengan mudah, dan merasa semuanya gelap. Yang terlihat adalah yang terlihat, dan yang gelap akan terus gelap. Tapi, tak apa, saya membeli buku ini untuk merasa terkejut.

Meski tanpa Poirot, Inspektur Battle sudah memerankan tugasnya dengan baik sebagai "Kerang dalam tubuh manusia". Kenapa sih dia tidak mau membantu Bundle? Hanya memberi satu jalan, untungnya (atau sayangnya) jalan itu sudah lebih dari cukup untuk Bundle memecah sedikit demi sedikit misteri ini.

Seperti kata saya tadi, Cerita Agatha selalu seru, saya tak tau mau bicara apa lagi.

Ohya, soal cover, saya ingat ingin membahasnya. Covernya bergambar Tujuh Jam atau Tujuh Lonceng mungkin. Yang 5 diantaranya berada di tabung/gelas kimia (enlemeyer?). Kalau mau dihubung-hubungkan dengan ceritanya, bisa di bilang gak nyambung, walau ada beberapa yang nyambung. Misal dua jam di luar tabung itu, menandakan dua orang yang pergi, dan satu jam yang hampir keluar, ya baru hampir. Meski angka-angka di jam-jam itu tidak relevan dengan orang-orang yang pergi itu. Dan tabung/gelas kimia itu, mengingatkan saya pada racun. Demikian.



"...Oh! Aku tak heran kalau salah seorang dari mereka adalah si Jam Tujuh. Hanya satu yang aku yakin bukan Jam Tujuh." 
"Siapa?" 
"Inspektur Battle." 
"Oh! Kukira kau akan mengatakan George Lomax."

-_-

Note: Si Jam Tujuh, adalah pemimpin Tujuh Lonceng yang tak pernah muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...