Sabtu, 05 Juli 2014

NEGERI DI UJUNG TANDUK - Tere Liye

Judul : NEGERI DI UJUNG TANDUK
Penulis : Tere Liye
Desain & Ilustrasi Sampul : eMTe
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan ke-1, April 2013
Jumlah halaman : 360 hlm
ISBN : 978-979-22-9429-3
Genre : Action, Thriller

Di sekuel buku Negeri Para Bedebah ini, diceritakan sudah setahun berlalu setelah kejadian Bank Semesta. Kini selain menjadi konsultan ekonomi, ia juga merangkap menjadi konsultan politik, di mana tema ini mendominasi cerita.

Klien politik Thomas adalah seorang kader partai lembayung berinisial JD yang berasal dari warga sipil. Ia pernah menjadi walikota dan gubernur terbaik di masa jabatannya, dan tahun depan dijamin Thomas akan menjadi presiden setelah tahun lalu mengakhiri 5 tahun jabatannya sebagai gubernur ibukota. Yang menarik, ternyata JD adalah kakak kelas Thomas di sekolah asrama-nya. Salah satu sekolah terbaik yang ada di dunia. Membuat Thomas yakin untuk mendukungnya maju menjadi RI-1.
"Sebuah karakter dan prinsip yang cemerlang tidak akan pernah datang dari sekolah dengan gedung megah, tapi dipenuhi guru-guru rakus dengan uang, hingga urusan jalan-jalan atau seragam saja bisa jadi lahan bisnis. Karakter dan prinsip cemerlang selalu datang dari tempat yang cemerlang-sesederhana apa pun tempatnya, datang dari proses pendidikan yang baik, dari guru-guru yang tulus dan berdedikasi tinggi." (166)
Permasalahan baru dimulai ketika pak JD merasa ada suatu kejanggalan menjelang konvesi beberapa waktu kedepan. Ada manuver besar-besaran yang mengubah arah suara. Belum sempat Thomas memikirkan apa yang terjadi. Beberapa petugas tiba-tiba datang menggeledah kapal pesiar (baru) Thomas dan menemukan seratus kilogram heroin dan sekarung persenjataan disana. Dan petualangan pun dimulai. Thomas yang agak licik itu berhasil kabur, meledek musuhnya dengan pergi kesana-kemari. Mencoba memperbaiki keadaan dengan seni orasi yang menyeramkan.

Ada beberapa tokoh baru yang muncul di buku ini, meski begitu ada juga yang hilang. Misalnya, wartawan keras kepala di Negeri Para Bedebah, Julia. Yang posisinya di gantikan Maryam. Tapi, jujur saja saya lebih suka Julia daripada Maryam. Nampaknya Julia lebih terdengar wajar bila menjadi akrab dengan Thomas. Saya rasa ia juga lebih 'berguna' daripada Maryam yang terkesan ikut-ikutan dan merepotkan. Memang sih, sifat mereka juga berbeda sekali. Julia memiliki harga diri tinggi dan tidak mau ikut campur masalah Thomas pada awalnya. Sedangkan Maryam lebih rendah hati dan sejak awal sukarela membantu Thomas. Selain itu sangat disayangkan Maryam tidak menjadi akrab dengan Maggie pada akhir cerita. Ia menyandang sebutan 'nenek lampir' hingga akhir cerita. Kasian sekali.

Ada juga Lee 'si Monster'. Juara bertahan di klub bertarung Makau yang ternyata adalah cucu teman Opa. Yang terlepas dari janjinya dengan Thomas, tidak akan membiarkan siapapun melukai keturunan Opa Chan demi balas budi atas yang telah dilakukan Opa pada kakeknya di atas kapal bocor 60 tahun lalu.

Dan jangan lupakan Kris. Pekerja baru Thomas dalam bidang IT dalam rangka meneliti 'omong kosong' yang sedang populer di masyarakat. Dia juga yang menemukan nama-nama anggota mafia hukum yang tidak sedikit jumlahnya menggunakan superkomputernya.

Selain itu ada Detektif Liu, detektif sekaligus kepala pasukan khusus antiteror Hong Kong, dan jendral bintang tiga yang menjadi kaki-tangan baru penjahat besar kita.

Dibanding Negeri Para Bedebah, 'petarung sejati yang memilih jalan suci' terlihat lebih banyak dan jelas di sini. Sehingga pembaca tidak ragu-ragu lagi memilih jagoannya. Hanya saja, perbedaan besar antara baik dan buruk ini membuat aura fiksinya lebih terasa.

Dan lagi, walaupun mempunyai masalah yang lebih besar yakni melawan musuh yang ternyata adalah mafia hukum dunia berbahaya yang tidak pernah terdeteksi oleh media manapun. Pengkhianat umat manusia, yang sepertinya memang agak gila karena berkeyakinan bahwa tindakan jahatnya selama ini adalah takdir yang harus dijalaninya. Tidak apa-apa.. Ini takdir, katanya. Yak, walaupun begitu rasa-rasanya petualangan Thomas lebih santai. Tapi, endingnya memang lebih seru dan menegangkan dari buku pertamanya.

Pemahaman yang menjadi point utama di buku ini adalah tentang kepedulian. Kepedulian untuk terus menepis kejahatan meski hanya sendiri. Kepedulian untuk terus berbuat baik meski diremehkan. Percayalah, bahwa selama kita masih peduli, kejahatan akan tumbang walau bukan tanpa usaha. Terus peduli, percaya, dan berjuang maka semoga dunia akan menjadi lebih baik.

Saran saya, memang ada baiknya membaca Negeri Para Bedebah sebelum Negeri di Ujung Tanduk. Karena memang banyak sangkut paut antar keduanya. Memang, beberapa dibahas sekilas. Tapi lebih menarik mengetahui cerita keseluruhan bukan? Apalagi ada kemiripan plot antara keduanya. Misalnya saja, jika kalimat sakti NPB adalah 'dampak sistemik' kali ini kalimat sakti bak virus itu adalah 'mafia hukum'. Atau jika kemarin ada adegan Thomas-Julia bertengkar ala telenovela disini ada pasangan pengantin baru Thomas-Maryam. Juga, apabila Thomas di Negeri Para Bedebah menyamar sebagai buronan untuk pergi ke Denpasar kali ini ia naik pesawat Hercules yang menakjubkan. Cerita selama petualanganpun tetap diselingi humor yang bisa membuat anda setidaknya tersenyum..
"Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk," (116) 
"Dunia ini selalu dipenuhi kabar buruk, anakku. Agar semua orang selalu menyadari, ada banyak kabar baik yang akan segera datang setelahnya." (157) 
"Penjelasan akan tiba pada waktu yang pas, tempat yang cocok, dan dari orang yang tepat." (159) 
"Penjelasan adalah penjelasan, terkadang tidak perlu diburu-buru, agar kita bisa lebih baik memahaminya." (159) 
"Kalian tahu, masalah terbesar bagi orang dewasa di luar sana? Dia ramai di tengah orang banyak, tapi sejatinya tidak ada satu pun yang benar-benar memikirkannya." (277) 
"Jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian. Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan besar pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang." (358)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...