Jumat, 21 Agustus 2015

The Monogram Murders - Sophie Hannah

sampul pembunuhan monogram oleh sophie hannah
goodreads
Judul: The Monogram Murders (2014)
Judul terjemahan: Pembunuhan Monogram
Pengarang: Sophie Hannah
Penerjemah: Ingliana Tan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ke-2, November 2014
Tebal: 376 hlm
ISBN 978-602-03-0755-8
Genre: Crime, Mystery & Thriller
“Kau percaya bahwa harapan adalah musuh ilmu pengetahuan dan bukan kekuatan yang mendorongnya? Kalau begitu, aku tidak setuju, ...” (p.64)
Hercule Poirot hendak menikmati makan malam yang tenang di sebuah kedai kopi di London, namun acaranya terganggu ketika seorang wanita muda mendatanginya. Wanita itu ketakutan karena akan dibunuh, tetapi dia meminta Poirot untuk tidak mencari dan menghukum pembunuhnya. Dia bersikeras bahwa setelah dirinya mati, keadilan telah ditegakkan.


Sesudahnya, malam itu, Poirot mengetahui ada tiga tamu yang dibunuh di sebuah hotel mewah di London, dan sebuah manset dimasukkan ke mulut masing-masing korban. Apakah peristiwa ini berkaitan dengan wanita yang ketakutan itu?

Sementara Poirot berusaha keras menyatukan keping-keping teka-teki yang aneh ini, si pembunuh mempersiapkan kamar lain di hotel, untuk korban keempat...

Di tangan penulis bestseller internasional Sophie Hannah, Poirot terjun ke dalam misteri yang berlangsung di London tahun 1920-an---teka-teki yang sangat rumit dan cerdik, yang hanya bisa dipecahkan oleh detektif Belgia yang hebat itu dan “sel-sel kecil kelabu”-nya.

Sophie Hannah jelas bukan Agatha Christie, gaya berceritanya pun berbeda. Bagi saya, penulis gagal menjadikan Poirot sebagai tokoh utama, dan membuat Edward Catchpool, sidekick-nya jadi lebih mencolok. Ini agak mengganggu saya awalnya, membaca dari sudut pandang Catchpool yang tidak terlalu suka dengan Poirot, membuat Poirot jadi terlihat menyebalkan. Dan Catchpool sendiri bukan orang yang menyenangkan, seolah sepanjang buku ia berkata ‘iya da, Poirot mah pinter, da aku mah apa atuh, cuma polisi Scotland Yard yang pengecut’. Catchpool benar-benar memerankan dirinya sebagai pembaca, yang kebingungan dan kesal dengan sikap misterius Poirot atau gagasan-gagasannya yang tidak masuk akal, atau setidaknya penulis membuat pembaca merasa seperti itu. Mungkin akan berbeda kalau saya baca versi aslinya, mungkin sebenarnya, perbedaan ‘aku’ dan ‘saya’-lah yang membuat saya merasa seperti itu.
“... Tapi Poirot bukan hanya pemecah teka-teki, mon ami. Dia juga seorang pemandu, seorang guru. Dia ingin kau berpikir sendiri, seperti yang dilakukannya. Seperti yang dilakukan wanita yang kauceritakan itu, Margaret Ernst, yang tidak bergantung pada Alkitab, namun pada penilaiannya sendiri.”
“Ya. Menurutku dia sangat angkuh,” kataku tajam. (p.214) (kurtilas vs siswa)

Meski begitu, harus diakui misterinya sangat menarik, saya suka sekali dengan twist-nya, amat tidak terduga karena kita dihadapkan kejutan yang berlapis-lapis, fakta palsu diatas fakta palsu, singkatnya, ditipu berkali-kali. Walau pasti akan lebih menarik kalau saya tidak harus merasa ada ‘kebetulan luar biasa’, mungkin ini sebab Catchpool yang tidak percaya diri—lagi—atau bisa juga karena Poirot terlalu cepat menyatakan gagasannya. Dan twist-twist ini agak membuat pusing sebenarnya, membuat saya sadar, semembosankan apapun buku Agatha Christie, setidaknya ia membuatnya dari rumit jadi sederhana dan bukan sebaliknya.
... “Jangan lupa, ladies and gentlemen, bahwa nama yang sama tidak berarti orang yang sama.” (p.331)

Ah, sepertinya benar-benar tidak adil kalau terus membandingkan dengan Poirot milik Agatha Christie, tapi memang sulit karena sejak awal saya terus memikirkan itu, walau saya juga sudah siap kalau kecewa. Intinya, misterinya keren, ceritanya menarik, tapi Poirotnya tidak. Dan 3 bintang mungkin sudah cukup.



“... Bagaimana sesuatu yang baik bisa dihasilkan dari pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran? Bagaimana  kemajuan bisa dicapai oleh orang-orang yang hanya ingin merusak dan menghancurkan, yang tidak bisa menceritakan harapan dan impiannya tanpa memberengut benci dan marah?” (p.233—p.234)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...