Sabtu, 29 Oktober 2016

Matahari - Tere Liye

goodreads
Judul: Matahari (Bumi #3)
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ke-1, Juli 2016
Tebal: 400 hlm
Genre: Fantasi, Fiksi-Ilmiah
SPOILER ALERT
Review ini mengandung spoiler dari buku-buku sebelumnya, Bumi dan Bulan.
Lihat, aduh lihatlah,
Ini tiga petualang melaju gagah
Mereka berasal dari klan yang berbeda
Menjelajah dunia tanpa tepian
Untuk tiba di titik paling jauh
Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang
Ada dalam genggaman tangan.”—p. 184

Empat bulan sudah berlalu semenjak “Liburan ke Klan Matahari” Ra dan kawan-kawan. Kini mereka harus kembali menjalani kehidupan mereka pura-pura sebagai remaja biasa. Sementara Miss Selena, sang Pengintai, lagi-lagi harus menjalankan banyak tugas. Hal ini membuat Ali tidak sabar, merajuk-rajuk iri (?) ingin kembali berpetualang. Apalagi setelah dirinya diberi akses tak terbatas ke Perpustakaan Sentral melalui sebuah tabung kecil yang diberikan Av sebelum mereka pulang. Berbekal sebuah alinea kecil mengenai Klan Bintang, serta informasi seluruh Klan, Ali bertekad akan pergi ke Klan Titik Terjauh itu.

Tentu saja Ra tidak setuju, pertama ia sudah berjanji tidak akan menggunakan Buku Kehidupan untuk main-main. Lagipula, bagaimana bisa ia mengandalkan informasi Ali yang terbatas itu? Apalagi kemampuan transformasi Ali yang masih belum bisa dikendalikan. Akhirnya Ali ‘menyerah’ dan memilih untuk memfokusan diri ke hal lain. Dan tebak pada hal apa Ali memfokuskan diri? Basket. Ali si biang onar, dengan wajah kusam dan rambut berantakkannya itu masuk tim inti ekskul basket. Bukan hanya tim inti, dia menjadi bintang di timnya, jadi seleb dadakan, seantero sekolah memujanya. Dialah yang membawa tim basket sekolah ke putaran final pertandingan basket antar sekolah.

Tapi saat pertandingan terakhir, Ali mulai kehilangan kendali, emosinya membuat tubuhnya mulai berubah. Ra dengan sigap menyerap cahaya, hendak membawa pergi Ali, tapi begitu dia bertransportasi ke tengah lapangan Ali menghilang. Malah sebuah kapsul misterius terlihat olehnya membawa tubuh Ali. Ra dan Seli mengejarnya, dan lebih terkejut lagi ketika sadar si kapsul mendarat di rumah Ali. Si biang onar itu bangun, lalu menjelaskan bahwa kapsul yang memiliki kekuatan klan Bulan dan Matahari itu adalah ciptaannya. Dan bahwa kapsul yang ia beri nama ILY itu akan menjadi tiket mereka ke Klan Bintang—sehingga Ra tak perlu melanggar janjinya.

Ya, Ali sudah tau di mana letak Klan paling misterius itu berada. Bahkan petinggi Klan Bulan dan Matahari saja tidak tau. Ra awalnya ragu, tapi dengan semua kejeniusannya alasan-alasan Ali selalu masuk akal. Lagipula dengan berkunjung ke sana, dia mungkin bisa menemukan informasi tentang orang tua kandungnya.

Tapi perjalanan itu jelas bukan perjalanan yang mudah. Klan Bintang sudah ribuan tahu tidak  dikunjungi, untuk menuju ke sana banyak rintangan yang harus mereka hadapi. Bahkan setelah sampai ke sana masalah yang lebih besar sudah menanti.
Nasib kita lebih buruk dibanding sewaktu bertualang di Klan Bulan atau Klan Matahari.”—p. 223
Matahari telah terbit. Dan covernya bagus banget. Dan senengnya peluncuran bukunya satu hari lebih cepat di Gramedia dekat rumah saya. Saya excited banget, walau rupanya kesempatan saya baca buku ini harus di tunda, dan temen-temen saya banyak yang bilang Bulan lebih seru, tapi prospek jalan-jalan ke Klan Bintang ini gak bisa gak bikin saya masang ekspektasi tinggi.

Oke, dibandingkan dua buku sebelumnya, blurb yang menceritakan tentang Ali sepertinya tidak terlalu menyimpang. Pada Bulan, misalnya, blurbnya memang tentang Seli tapi meski kemudian hal itu karena berhubungan dengan tanah leluhurnya, Klan Matahari, tetap saja karakter Seli tidak terlalu menonjol. Kali ini, berbeda, sejak membaca Bumi saya penasaran sekali dengan Ali karena bagaimana kehidupan pribadinya jarang sekali di bahas. Di Matahari, kita jadi tau latar belakang Ali lebih rinci. Apalagi dengan tidak adanya Ily, kecerdasan Ali kembali mendominasi dan tidak menjadi sekedar ‘Makhluk Rendah’ saja.

Bahkan saking kuatnya dominasinya, saya sempat sangsi kalau genre scifi bakal menggeser habis genre fantasi di cerita ini. Kalau dipikir-pikir ini mungkin ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya, yang banyak menulis cerita-cerita islami, karena tema sihir memang agak riskan. Tapi rupanya tidak begitu juga, masih ada hal-hal yang tidak bisa Ali jelaskan tentang kekuatan Ra. yah, walau hal itu tidak mengubah suasana scifinya.

Apalagi Klan Bintang ternyata jauh dari perkiraan saya selama ini. Tempat itu tidak dikuasai pemilik kekuatan, bahkan melarang segala jenis penggunaan kekuatan. Seluruh bagian Klan di atur dengan teknologi paling canggih, gabungan teknologi Klan Bulan dan Matahari. Yang kemudian malah membuat beberapa pihak muak, merasa dirinya di perbudak dengan semua keinginan yang langsung terpuaskan. Saya tiba-tiba teringat Brave New World, novel distopia itu juga memepertanyakan kebahagiaan macam apa yang tidak ada tantangannya.
“Dewan Kota mengendalikan kehidupan. Mereka mengklaim melakukannya demi kebaikan penduduk Klan Bintang, terutama kota Zaramaraz, permata paling indah di perut bumi. Tapi pertanyaanya, apakah penduduk Klan Bintang sungguh bahagia? Atau hanya jadi robot, yang tidak lagi punya kehidupan nyata.”—p. 261
Tapi soal teknologi ini sepertinya ada beberapa mis. Seperti lemari pakaian misalnya, dikatakan bahwa pakaian yang sering digunakan akan ada di tumpukkan paling atas sementara yang jarang akan ada di bawah. Yah, sebagai Makhluk Rendah sih, saya rasa, tanpa teknologi itu pun hal terseut sudah terjadi. Maksud saya, pakaian yang sering di pakai, pasti sering dicuci, sering disetrika dan akan selalu ada ditumpukkan teratas. Malah tidak efektif karena tidak FIFO. Dan ngomong-ngomong tumpukkan pakaian, dengan seluruh teknologi mutakhir itu Klan Bintang bahkan tak perlu mengganti pakaian. Jadi tumpukkan pakaian? Yang sering dan jarang dipakai?

Tapi dari sisi budayanya, penjabarannya saya acungi jempol. Diperkenalkan dengan klan baru, tentu cirinya juga baru, dan inilah yang disampaikan penulis. Nama-nama, bentuk kota, dan bagian-bagian wilayahnya ternyata memang tidak pernah saya bayangkan. Maksud saya, setelah Klan Bulan dengan lingkaran dan hitam-hitam, dan Klan Matahari dengan kotak dan warna-warninya, saya tidak bisa membayangkan akan diapakan Klan Bintang—malah sempat terpikir juga kalau Klan ini tak akan pernah ditemukan—

Hanya saja ini berarti penjabaran world-building lagi, deskripsi panjang lagi. Akhirnya, Matahari seolah hanya mengikuti pola yang sama dengan Bumi dan Bulan—pergi ke klan lain, pengenalan latar yang sama sekali baru, dan petualangan yang menengangkan, lalu berakhir dengan kenyataan mengejutkan (yang rupanya menjadi alasan pertarungan mereka selama ini)—. Perpindahan dunia ini mungkin memang dimanfaatkan supaya bisa pembahasan ceritanya bisa lebih luas. Tapi malah menyebabkan saya tidak bisa melihat koneksi antar bukunya. Tiap buku berdiri sendiri-sendiri, memang sih tidak pernah ada keharusan ceritanya harus mengalir dari satu buku ke buku lain tapi tetap saja rasanya terlalu cepat.

Atau mungkin ini  saya saja yang rewel karena setelah Matahari, hanya akan ada buku terakhir, Bintang. Lalu petualangan Ra akan berakhir, benar-benar berakhir. Saya dilema antara pengen buru-buru baca Bintang atau gak mau buru-buru baca Bintang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...