Minggu, 24 Mei 2015

One, Two, Buckle My Shoe - Agatha Christie

goodreads
Judul: One, Two, Buckle My Shoe (1940)
Judul terjemahan: Satu, Dua, Pasang Gesper Sepatunya
Pengarang: Agatha Christie
Penerjemah: Alex Tri Kantjono W.
Penerbit: PT Gramedia
Terbit: Cetakan ke-1, 1986
Tebal: 320 hlm
ISBN 979-403-013-9
Genre: Classic, Crime, Mystery and Thriller

..., "Saya banyak membaca cerita spionase semacam ini. Ada beberapa yang fantastik. Tapi cukup mengherankan, semua itu tidak lagi fantastik dibandingkan kejadian-kejadian yang nyata. ..." (hal 98)
Alistair Blunt adalah seorang bankir yang paling berpengaruh di Inggris, dengan cara konvensionalnya ia telah menyelamatkan Inggris dari krisis ekonomi yang mungkin terjadi. Tidak heran banyak orang yang memujanya, tetapi tidak sedikit pula yang membencinya, pemuda-pemuda yang menginginkan revolusi atau mungkin sekelompok mata-mata internasional yang menganggap Blunt adalah penghalang mereka. Jika ada yang menginginkan Blunt tewas, itu bukan hal aneh.

Jadi, bagaimana kematian seorang dokter gigi bisa berhubungan dengan Alistair Blunt? Orang menduga karena Dr. Morley menolak untuk membunuh Blunt. Lalu bagaimana dengan Mr. Amberiotis, seorang pemeras yang tewas karena duduk di kursi periksa Dr. Morley? Juga Mrs. Sainsbury Seale, ia hanya wanita jujur yang penuh semangat, kenapa pula harus dibunuh dengan begitu keji?

Frank Carter menjadi tersangka utama, ia amat membenci Dr. Morley, dan ditemukan melepaskan sebuah peluru pada Alistair Blunt. Meski begitu, Howard Raikes tidak kalah mencurigakan karena ia dua kali menyelamatkan Alistair Blunt dari tembakan-tembakan itu, kebetulan yang agak aneh, eh? Apalagi, ia adalah salah satu pemuda revolusioner yang membenci Blunt.

Seperti yang selalu dikatakan Poirot pada Hastings, sesuatu yang kelihatannya rumit justru sebenarnya sederhana. Sama pada kasus ini. Yang sebenarnya terjadi adalah, tumbuhnya seorang pemuda yang jujur menjadi serigala berbulu domba tanpa ia sadari. Ia cukup pintar untuk membuat banyak jebakan ganda untuk menipu Poirot juga pembaca. Uang dan nyawa tidak masalah baginya. Ini membuat Poirot sedih.
                “Ya, kita semua manusia. Itulah yang anda lupakan. Jadi menurut Anda *spoiler* adalah manusia dungu, Amberiotis manusia jahat, *spoiler* sampah masyarakat—dan Morley—Morley hanyalah seorang dokter gigi dan dokter gigi yang lain masih banyak. Itulah perbedaan antara Anda dan saya, *spoiler*. Karena bagi saya nyawa keempat orang itu sama pentingnya dengan nyawa Anda.” (hlm 314-315)
Saya juga sedih, terutama pada kenyataan saya tidak terlalu menikmati buku ini. Mungkin ini gara-gara Mr. Barnes, mantan pegawai negeri yang pertama kali menawarkan ide spionase itu pada Poirot, dan Poirot seolah percaya saja mengenai hal itu. Terlebih lagi, pengakuannya di akhir cerita bikin saya jadi kesal sendiri. Kenapa tidak dari awal saja ia berkata yang sejujurnya?—karena itu akan membuat segalanya terlalu mudah? Eh?—

Oke, untuk misterinya sendiri. Seperti yang saya tuliskan, rumit padahal sederhana. Motif sudah dikemukakan di awal--padahal saya kira itu kesulitannya. Membuat saya merasa bodoh saja XD.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...