Selasa, 30 Juni 2015

The Rise of Majapahit - Setyo Wardoyo

goodreads
Judul: The Rise of Majapahit
Penulis: Setyo Wardoyo
Penerbit: PT Grasindo
Terbit: Cetakan ke-1, 2014
Tebal: xxvi+399 hal
ISBN 978-602-251-826-6
Genre: Historical Fiction
SPOILER ALERT

Review ini mungkin mengandung spoiler tentang endingnyaAh, tapi ini kan sejarah.
... “Kita harus berani menetukan nasib negeri kita sendiri. Jika kita lemah maka negeri lain akan mempermainkan kita”—p. 194
Berawal dari dendam keturunan Kertajaya—Raja Kediri—, Jayakatwang yang karena tahta nenek moyangnya itu digulingkan Ken Arok, ia jadi tidak bisa menduduki singgasana Kediri dan malah hanya menjadi raja Gelang-Gelang di bawah kepemimpinan keturunan Ken Arok itu, Kertanegara—Raja Singosari. Karenanya, ketika mendapat gulungan lontar dari adipati Sumenep—tepatnya dari Arya Wiraraja, mantan petinggi Singosari yang sakit hati karena jabatannya diturunkan—yang menyatakan bahwa ini keadaan Singosari sedang lengah. Jayakatwang sama sekali tidak ragu untuk menyerang induknya itu.

Penyerangan itu benar-benar diluar dugaan. Gelang-gelang menyerang secara tiba-tiba ke desa, melanggar aturan perang. Lalu mereka menyerang istana. Seperti kata Arya Wiraraja, Singosari sedang lengah. Istana porak poranda, Kertanegara tewas, kekuasaan berhasil direbut. Raden Wijaya—yang merupakan tokoh utama dari kisah ini—berhasil melolosakan diri. Meski berkali-kei dikejar dan diserang dari desa ke desa oleh pasukan Gelang-gelang. Ia dan petinggi Singosari lainnya akhirnya bisa selamat di Sumenep.

Arya Wiraraja merasa menyesal setelah melihat kondisi menantu bekas rajanya itu. Dan memutuskan untuk berbalik berpihak pada Raden Wijaya. Taktik yang ia usulkan adalah, berpura-pura menyerahkan diri dan membuat persiapan perang di Hutan Tarik—yang kemudian menjadi Desa Majapahit. Lama kelamaan, Jayakatwang mengetahui niat tersembunyi Raden Wijaya dan memutuskan menyerang ‘pengkhianat’ itu. Namun ia kaget bukan main ketika melihat pasukan Raden Wijaya yang terdiri dari orang Majapahit, tapi juga orang Madura dan ... Mongolia.

Jauh sebelum penyerangan di Singosari. Seorang utusan ketiga dari Mongolia datang menghadap Kertanegara dan menyampaikan pesan dari Kubilai Khan agar Jawa tunduk pada kekuasaan Mongolia. Yang mana hal ini dijawab Kertanegara dengan memotong daun telinga utusan itu. Pihak Mongolia yang dendam itu akhirnya mengirimkan pasukan untuk membalas dendam, namun yang mereka temukan adalah kerajaan Singosari sudah tiada. Lalu, dengan akal Raden Wijaya, mereka malah berbalik ke pihaknya.

Namun itu tidak berlangsung lama. Setelah kekalahan Kediri karena gempuran Mongolia+Madura+Majapahit yang sangat besar itu, Raden Wijaya berhasil mendapatkan kembali pusaka kerajaan dan menyerang balik Mongolia demi mewujudkan mimpi Kertanegara untuk mempersatukan Nusantara dan mengenyahkan penjajah (sepertinya penulis ingin menyindir keadaan bangsa ini yang banyak tergantung pada negara lain)


Oke, pertama saya benar-benar salut pada penulisnya. Riset yang menakjubkan dan sungguh mulia niatnya untuk mengabadikan sepenggal sejarah Nusantara dalam kemasan yang lebih menarik. Sebagai pelajar yang sering mengantuk dalam kelas Sejarah saya acungi empat jempol!

Karakterisasinya saya suka. Terutama, Gayatri yang awal kemunculannya udah sangar banget. (Membunuh prajurit musuh karena ketenangnannya membaca terganggu). Selain itu saya juga suka Tribuaneswari, sebagai anak sulung Kertanegara, dia amat dewasa, cepat mengambil keputusan dan berani—tapi langsung tak berdaya di depan suami *eh?—. Dan anehnya, satu tokoh lagi yang saya suka adalah Mahisa Mundarang, pihak Gelang-Gelang. Umm, mungkin karena adegan berikut:
Mahisa Mundarang bersimpuh di sebelah kanan jasad raja Singosari terakhir. Dirapikan busananya. Ditata tanda-tanda kebesarannya. Doa pun mengalir dari mulutnya bagi musuh yang telah dikalahkannya, “Duh, Yang Maha Agung! Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami!”—p.86
Namun, tetap saja. Buku ini masih banyak kurangnya. Hal-hal teknis seperti typo yang banyak luar biasa. Lalu deskripsi yang terlalu panjang—saya rasa. Saya baca ini satu bulan lebih karena bosen. Padahal hampir separuh lebih adegan perang, apa karena itu? kebanyakan perangnya terus jadi bosen? Mungkin juga karena gaya bahasanya yang nyastra dan saya gak biasa gitu bacanya. Mungkin kalau kamu suka?

Lalu footnote, yang sebenarnya lebih baik ditarus di akhir halaman saja daripada di akhir buku. Saya cape bulak-balik halamannya, sudah begitu ada istilah yang saya tidak mengerti tidak ada di footnote nya—yang saya ngerti malah ada :|

Akhir kata saya doakan semoga proyek film cerita ini berhasil.
“Memangnya padi bisa beranak, Bu?”
“Bukan beranak! Tapi berkembang biak!”
“Berkembang biak itu apa sih, Bu?”
“Berkembang biak itu ya sama juga dengan beranak”
“Lho, kata ibu bukan beranak tapi berkembang biak! Gimana sih?”
Subiksa gugup. Terganggu pertanyaan anaknya. “Ah sudahlah! Main di luar saja sana!
Mita menggerutu centil, “Kok lucu sih, tanaman bisa beranak!” Geli sendiri.—p. 190

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...