Rabu, 03 Mei 2017

Book-Hangover dan Cara Mengatasinya

Book-Hangover dan Cara Mengatasinya

Halo pembaca yang budiman? Jadi, yah, postingan pertama setelah beberapa saat yah? Hehe he he     he πŸ˜…

Saya awalnya gak niat buat ngosongin blog gitu aja sih selama tiga bulan terakhir. Saya tau kalau menjelang ujian pasti bakal lebih sibuk, dan mungkin postingan blog (yang sudah sepi) bisa jadi lebih sepi, tapi gak nyangka juga bakal sesepi ini.

Tapi yah, bulan Maret saya ulangan tiga minggu berturut-turut, dan suasana menjelang UN bikin saya merasa bersalah tiap mau baca novel. Belum lagi keyboard laptop rusaknya makin parah dan bikin makin males buat nulis.

Makin lama, ada aja alasannya buat nunda saya nulis dan baca. Padahal mah, saya tetep baca dan nulis di wattpad, tetep aktif sosmed, tetep bikin gambar-gambar digital. Jadi, saya rasa sudah saatnya juga buat kembali jadi bloger buku (iya, setelah event hut bbi berakhir, ckckck). Alasan dan hambatan akan selalu ada, tinggal gimana kita menghadapinya kan?

Jadi pos pertama di bulan Mei ini saya sengaja gak buat review, karena pertama entah kenapa ngerasa bakal canggung banget kalo tiba-tiba saya buat review yang notabene review saya jarang ada cuap-cuapnya begini. Dan kedua, karena saya tetiba keingetan kalau saya juga pernah males baca kayak gini, tapi untuk alasan yang lain.

Book-hangoverBook hangover, saya mengidentifikasikannya sebagai keadaan di mana setelah membaca sebuah buku yang sangat bagus, seorang pembaca tidak bisa move on dari buku itu. Baik ke dunia nyata maupun ke buku lain lagi, karena pikirannya masih terjebak di dalam buku yang ia baca sebelumnya.

Saya yakin setiap orang pasti pernah ngalamin hal ini, setidaknya sekali. Gak harus buku yang bagus sih, bisa juga buku yang mungkin punya ikatan sentimentil sama kita. Sehingga setelah baca, bisa kepikiran berhari-hari. Yah, pokoknya gitu.

Saya sendiri gak terlalu inget berapa kali ngalamin book hangover. Bukan berarti sering banget sih, cuma lupa aja dan bingung bedain mana bookhangover beneran dan sayanya aja yang overthingking, wkwk.

Tapi ada beberapa buku yang saya inget. Salah satunya The Giver karangan Lois Lowry, mungkin gara-gara The Giver ini juga buku dystopia yang pertama kali saya baca jadi sayanya kaget. Yah, pokoknya, selama beberapa hari setelah baca buku itu, saya kepikiran terus dan gak bisa fokus buat baca buku lain. Bahkan beberapa saat kemudian, kalau saya lagi mikirin soal betapa menyenangkannya dunia kalau begini dan begini saya bisa keingetan The Giver lagi dan sadar kalau gak semua yang kita pikir baik itu betulan baik.

Brave New World The GiverBuku lainnya, masih dystopia juga, adalah Brave New World karangan Aldous Huxley. Brave New World malah menawarkan ide yang berbeda dari The Giver. Kalau The Giver bilang masa depan yang cerah adalah ketika semuanya sama, Brave New World bilang dunia dengan tingkatan kasta yang saling menerima itu lebih baik. Dan ini bikin saya melongo sendiri, karena selain itu, menurut Huxley, untuk menciptakan dunia yang selalu bahagia artinya sama dengan menghapus moralitas sama sekali. Gimana saya gak ngalamin krisis eksistensi coba?

Tapi yah, book hangover kadang pertanda bagus juga sih. Karena artinya kita bener-bener masuk dan paham sama buku yang kita baca. Namun. Kalau sampai ganggu aktivitas yang lain sih, bahaya juga. Jadi di sini saya juga memberi beberapa cara saya menghadapi book hangover.


1. Buat Resensi

Yap, buat resensinya. Dan bukan hanya mencatat apa yang jadi kelemahan dan kelebihan buku, tulis juga apa-apa yang menganggu kamu tentang buku itu. Bukan menggangu dalam arti yang buruk lo, maksudnya poin-poin yang bikin kamu kepikiran. Ini juga bisa buat resensi kamu isinya jadi lebih luas dan berbobot karena juga berkaitan dengan kehidupan. Mungkin ini salah satu keuntungan book hangover ya? Kalau dalam kondisi biasa, setidaknya kamu perlu berpikir untuk buat konten semacam ini.

Cuma hati-hati juga, jangan sampai terlalu banyak yang kamu bahas sampai spoiler. Kecuali kalau resensinya mau kamu simpan sendiri ya gak apa-apa. Saya pernah tuh, buat review panjang banget tapi isinya spoiler semua, anehnya postingan review itu selalu nangkring di widget paling banyak di baca. Trus gak kamu hapus gitu, fat? Enggak. 😈

2. Baca fanfiksi

Book hangover itu kamu gak bisa move on dari dunia buku itu kan? Yaudah jangan dulu move on *eh? Baca fanfiksi di web bisa ngobatin rasa kangen kamu, atau malah bikin kamu bosen sendiri. Pokoknya sampai kamu puas. Gak cuma fanfiksi sih, scrolling fanart di pinterest seru juga lo


3. Kepoin penulisnya

Kalau kebetulan buku yang kamu baca itu pengarangnya masih hidup, kamu bisa kepoin sosmed penulisnya. Siapa tau dia buat sekuel atau sidestory-nya. Kalaupun enggak, mungkin kamu bisa ketemu orang-orang yang juga suka sama bukunya. Berdiskusilah, mumpung spoiler tidak dilarang.


4. Baca buku sejenis

Mengingat sebagian pengarang biasanya fokus di satu genre, kamu bisa coba baca buku pengarang yang sama, siapa tau kamu menemukan topik yang sama di bukunya yang lain. Nyari buku pengarang lain yang sejenis juga gak susah kok, kan ada goodreads.

Dan itulah beberapa cara mengatasi bookhangover. Atau setidaknya cara saya mengatasi book hangover. Kalau kamu pernah ngalamin book hangover juga? Share dong pengalaman kamu di sini! Atau jangan-jangan punya definisi yang berbeda soal book hangover? Terus gimana caramu mengatasinya? Jangan segan berkomentar ya.

2 komentar:

  1. Arigatou~ Pas banget nih aku lagi book hangover. Anyawy, tulisannya enak dibaca, asik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama ehehe. Makasih juga udah mampir 😊

      Hapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...