Jumat, 26 Desember 2014

The Graveyard Book - Neil Gaiman

Judul: The Graveyard Book (2008)
Judul terjemahan: Cerita dari Pemakaman
Pengarang: Neil Gaiman
Penerjemah: Lulu Wijaya
Desain sampul: eM Te
Ilustrasi: Dave McKean
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ke-1, Maret 2013
Tebal: 351 hlm
Genre: Fantasy, Horror
ISBN: 978-979-22-9460-6

Di kegelapnya malam bulan Oktober, dalam kabut tipis yang menghalangi cahaya bulan. Anak itu selamat, tepat saat pria yang bernama Jack tiba dikamarnya, ia sudah mendaki bukit menuju pemakaman. Anak itu kemudian ditemukan oleh pasangan suami istri Owens yang atas permintaan arwah ibu kandung anak itu, ia diangkat menjadi anak angkat mereka. Sementara itu, Silas menemui pria bernama Jack dan dengan kemampuannya membuat pria itu lupa.

Nobody Owens, dalam pengawasan penghuni pemakaman. Tumbuh menjadi anak yang cerdas dan penurut. Ia, karena mendapat kebebasan pemakaman mampu melakukan hal-hal yang dapat hantu lakukan. Ia punya banyak teman dari berbagai jenis hantu dan suka mendengarkan mereka bercerita tentang kehidupan masa lalu. Ironisnya sama sekali tidak dari kalangan orang hidup.Untungnya, saat Bod berusia ±4 tahun. Ketika ia sedang belajar menulis dengan menyalin nama-nama dari batu nisan. Ia bertemu dengan Scarlett, teman 'orang-hidup' pertamanya. Gadis itu, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi walau sedikit egois. Bersama Scarlett, Bod jadi tahu lebih banyak mengenai pemakaman. Yang nantinya menjadi hal paling penting dalam kelangsungan hidupnya.

Perlu saya katakan, salah satu hal yang teramat unik dari buku ini adalah pembagian tema yang sangat kentara. Mungkin karna targetnya anak-anak, dibuat seperti kumcer supaya lebih sederhana. Walau sebenarnya kisahnya samasekali tidak sederhana. Ngomong-ngomong, saya juga akan menggambarkan kisah buku ini seperti kumcer juga.

Bab 3, Anjing-Anjing Tuhan umumnya bercerita tentang Bod dan gerbang ghoul, tentang Mrs. Lupescu dan pelajaran-pelajaran yang menurut Bod tidak penting (begitu pula saya). Tapi, seperti yang bisa ditebak, memberi pesan bahwa segala jenis ilmu akan berguna. Bab 4, Batu Nisan Si Penyihir. Kita diperkenalkan dengan Liza Hempstock dan sisi lain pemakaman, Potter's Field. Bagian ini, disebut-sebut lagi mengenai pria bernama Jack, dan bahaya mulai mengintai Bod. Bab 5, Tarian Kematian. Mungkin yang paling penting disini adalah pertemuan Bod dengan Wanita Penunggang Grey dan kemisteriusan Silas.

Pada bagian Interlude, jelas menandakan cerita mulai mencapai klimaks. Bagian ini, sudah tak seperti kumcer lagi, tapi suatu kesatuan. Jack, mulai bergerak, sementara Bod mulai menyentuh dunia luar. Sebentar lagi mereka akan dipertemukan. Antara Bod atau Jack yang akan mati, semua sudah digariskan. Namun, bukan berarti perjuangannya akan mudah, lebih dari itu, butuh kecerdikan dan pengetahuan yang diterima Bod selama ini.  Salah satu bab favorit saya dala bagian ini adalah ketika Bod sekolah. Saat ia akhirnya mendapat masalah karna membantu temannya, saat ia berinteraksi dengan Mo.

Mengenai Silas, ia memang tokoh yang unik. Tanpa diberitahu siapa dia sebenarnya, pembaca diberi petunjuk mengenai identitasnya. Seseorang yang tidak hidup juga tidak mati, hanya makan satu jenis makanan dan tak punya bayangan. Hal ini tidak berlaku bagi saya yang terjebak spoiler -_-

Ngomong-ngomong saya suka sekali deskripsi setting di pembukaan buku ini. Gelap, jadi gampang dibayanginnya LOL XD. Buku ini juga ada ilustrasinya lo, makin lengkaplah suasana surrealnya, soalnya gambar-gambarnya lumayan ... yaah,

Dan akhirnya, saya ‘jatuh cinta’ pada The Graveyard Book, melalui Bod entah kenapa saya merasa penulis menyampaikan bahwa banyak cara untuk mendapatkan petualangan, tidak selalu dengan cara klise melanggar peraturan. Bahkan, meski menjadi anak penurut, baik hati, dan rajin jika memang petualangan itu takdir kita, maka jadilah. Selain itu lagi-lagi, manusia hidup dan segala ambisinya memang selalu lebih menakutkan dari orang mati.

Sekali lagi, sebuah buku telah memberi banyak pemahaman. Mengenai kasih sayang, pengetahuan serta keberanian.

"Itu bedanya orang hidup dan orang mati, ya kan?" kata suara itu. Yang berbicara itu Liza Hempstock, Bod tahu, meskipun penyihir itu tak tampak di mana pun. "Orang mati tidak membuatmu kecewa. Mereka sudah menjalani hidup mereka, melakukan apa yang telah mereka lakukan. Kami tidak berubah. Orang hidup, mereka selalu mengecewakanmu, kan? ..." p.226

1 komentar:

  1. I wish you a happy 2015 from central Canada! My three reading themes run for their second year, from February to February. I thought you might enjoy having a look. Sincerely, Carolyn. https://cmriedel.wordpress.com/riedel-challenges-2015/

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...