Rabu, 30 Desember 2015

A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle

Judul: A Study in Scarlet (1887)
Pengarang: Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit: Project Gutenberg
Terbit: Juli 2008, ebook
Tebal: 112 hlm
Genre: Classic, Crime, Thriller & Mystery

“There's the scarlet thread of murder running through the colourless skein of life, and our duty is to unravel it, and isolate it, and expose every inch of it.”—p. 32

Ini pertama kalinya saya baca Sherlock Holmes. Dan bersama Dr. Watson yang baru kembali dari perang, sama-sama berkenalan untuk pertama kalinya dengan detektif nyentrik ini. Saya mencoba mengingat apa yang dikatakan orang-orang tentang Sherlock Holmes. Seorang teman berkata kalau ia adalah detektif yang rendah hati, dan Monsieur Poirot selalu menggambarkannya sebagai anjing yang mengendus-endus.

Nah, rupanya Sherlock Holmes mengatakan bahwa dirinya adalah tipe arm-chair detective, dan nyatanya, egonya cukup besar untuk disebut rendah hati. Tapi, yaah, karakternya memang memiliki daya tarik tersendiri. Sherlock Holmes digambarkan memiliki banyak keahlian untuk menunjuang pekerjaannya. Sifatnya yang sering berubah-ubah dan tamunya yang aneh-aneh juga membangkitkan rasa penasaran Dr. Watson mengenai apa pekerjaannya.

"I consider that a man's brain originally is like a little empty attic, and you have to stock it with such furniture as you choose."—p. 11

Jadi, di buku petamanya kali ini, Sherlock Holmes dihadapkan oleh penemuan mayat di Brixton Road. Di tempat kejadian ada tulisan RACHE yang dituliskan di dinding dengan darah, padahal tidak ditemukan luka pada korban yang diduga bernama Enoch J. Drebber ini. Ditemukan pula sebuah cincin pernikahan pada diri korban.

Jelas terlihat bahwa saya sudah terpengaruh (eh?) oleh Poirot, jadi review ini sulit jadi objektif. Saya sudah kaget begitu di akhir bagian satu buku ini, pembunuhnya tiba-tiba ketahuan, yaah gak tiba-tiba sih.  Sherlock Holmes memang sudah terlebih dahulu melakukan penyelidikan. Melihat TKP, meneliti bukti-bukti dan menganalisis ciri-ciri korban berdasarkan hal-hal kecil. Tidak salah kalau deduksi Sherlock Holmes disebut-sebut amat luar biasa.

Lalu cerita dilanjutkan dengan kejadian yang melibatkan John Ferrier dan putri angkatnya Lucy Ferrier yang di selamatkan oleh rombongan The Mormons dari bencana di tengah-tengah padang pasir. Yang kemudian, akhir tragis mereka dijadikan motif oleh ‘pembunuh’ atau setidaknya begitu bagi Drebber.

“You may consider me to be a murderer; but I hold that I am just as much an officer of justice as you are”—p. 98

Nah, seseorang berkata cerita detektif yang baik meletakkan pembunuhan di akhir, bukan di awal. Makanya saya menganggap penulis tidak berbuat adil. Tapi mungkin itu memang bukan tujuannya. Pembaca tidak bisa ikut menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya tapi disuguhi dengan kehebatan Sherlock Holmes dalam bekerja. Toh, metode kerja Poirot dan Holmes memang 180 derajat berbeda. Holmes meneliti bukti nyata dan Poirot meneliti manusia.

Hal lain yang membuat saya tidak terlalu menikmati buku ini mungkin juga karena saya bacanya versi Inggrisnya dan ebook ini saya baca di laptop. Jadi semacam setengah hati bacanya gitu. Mungkin suatu hari nanti saya akan baca paperback terjemahannya, dan pendapat saya akan berubah. Siapa tau?

Oh ya, satu hal. Saya lebih suka Dr. Watson daripada Hastings. Entahlah, mungkin karena Dr. Watson lebih punya kontrol diri dan lebih cerdas. Apalagi kalau statusnya sebagai sidekick detektif besar.

“So all life is a great chain, the nature of which is known whenever we are shown a single link of it.”—p. 15


2 komentar:

  1. Akhirnya lu baca novel Holmes juga, wkwk reviewnya terasa begitu naif Fat haha. Ebook indonya skrng bahkan udah ada di play store, kalo lu mau...

    BalasHapus

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...